Opini
Jalan Menuju Fitrah
SECARA umum, ibadah dalam Islam selalu bersifat dua dimensi: sosial dan ilahiah. Shalat, selain mendekatkan diri kepada Allah swt
Subhan M Isa, Dosen UIN Ar-Raniry
SECARA umum, ibadah dalam Islam selalu bersifat dua dimensi: sosial dan ilahiah. Shalat, selain mendekatkan diri kepada Allah swt, juga menciptakan disiplin dan kehadiran secara sosial. Simbol dari dua dimensi itu pada pengakuan kebesaran Allah (takbiratul ihram) dan menyebarkan perdamaian dan cinta kasih melalui ucapan salam di akhir shalat dengan menoleh ke kanan dan kiri. Dimensi-dimensi serupa juga ada pada zakat dan haji.
Tetapi, untuk puasa di bulan Ramadhan, kita melihat dimensi yang lebih mendalam lagi.Puasa adalah praktik ritual yang privasi yang sekaligus memberikan efek sosial yang besar. Selain itu, puasa merupakan medium menciptakan manusia yang baharu melalui latihan sebulan penuh. Harapannya, kebaruan itu akan menciptakan kemanusiaan yang sejalan dengan fitrahnya.
Tulisan ini akan menimbang ibadah puasa melalui tiga tujuan yang termaktub dalam Al-Qur’an. Tujuan itu nantinya menjadikan manusia beriman, yang melakukan puasa, akan menjadi pribadi bertakwa (QS. 2:183), jalan kebenaran (QS. 2:185), dan mendapat petunjuk (QS. 2:186). Tiga jalan ini yang akan membawa manusia beriman kepada wujud fitrahnya yang hakiki.
Pribadi taqwa
Setiap bulan Ramadhan tiba, penceramah tidak bosan-bosannya mengingatkan kaum muslimin untuk memaknai puasa dengan sebaik-baiknya, karena dengan puasa, “moga-moga menjadi manusia yang bertaqwa.” Pesan ini terlampau kuat sehingga menjadi ujaran pamungkas bahwa berpuasa maka akan menjadi manusia yang memiliki daya guna. Lalu apa definisi taqwa sesungguhnya?
Dalam terjemahan Quran Abdullah Yusuf Ali, taqwa adalah upaya pengendalian diri. “O ye who believe! fasting is prescribed to you as it was prescribed to those before you that ye may (learn) self-restraint.” Berbeda dengan Quran terjemahan Kementerian Agama, Abdullah Yusuf Ali memberi makna bahwa taqwa merupakan sikap pengendalian diri. Bahkan, di sisi lain, Yusuf Ali memilih untuk tidak menafsirkan taqwa sebagai takut kepada Tuhan (fear of God). Baginya, relasi Tuhan dan manusia tidaklah dalam skema demikian. Bagi Yusuf Ali, puasa dapat membuat setiap manusia beriman belajar untuk mengendalikan diri dengan baik sehingga tumbuh pemurnian dan pendisiplinan pada tubuh dan jiwa.
Perhatian Yusuf Ali terhadap tubuh dan jiwa merupakan pemahamannya tentang intisari kemanusiaan. Mengabaikan salah satunya, maka akan membuat kemanusiaan tidaklah utuh. Bahkan, dalam beberapa aspek, jiwa (atau ruh) mendapatkan perhatian lebih besar daripada tubuh. Dalam bukunya, Ar-Ruh, Ibnu Qayyim Al Jauziyah memberi penekanan bahwa tubuh adalah medium bagi ruh atau jiwa. Ketika jiwa pergi, maka tubuh akan berhenti: ”Ketika ruh meninggalkannya, tubuh menjadi bangkai.”
Jalan kebenaran
Berkali-kali, Al Quran menjelaskan tentang pentingnya kepada manusia beriman untuk mengetahui mana jalan yang benar dan batil. Beberapa ayat di antaranya menegaskan tentang tidak bolehnya mencampur adukkan antara haq dan batil (QS. 2:42), harapan Allah STW menegakkan yang haq dan melenyapkan yang batil (QS. 8:8), jika yang benar tiba, maka yang batil akan kalah (QS. 17:81), kebenaran pasti mengalahkan yang batil (QS. 21:18), dan kebenaran pastilah mutlak menang sehingga kebatilan tidak mampu mengulangi tindakannya (QS. 34:49).
Perhatian Quran terhadap yang benar mengatasi yang batil merupakan isyarat sunnatullah, bahwa sampai kapan pun kebenaran pastilah akan memenangkan pertarungan. Quraish Shihab, mufassir Indonesia kontemporer, memberi pemaknaan yang mendalam tentang pertarungan antara yang kebenaran (al-haq) dan yang kebatilan:
“Kebatilan dan kebaikan selalu berdampingan selama hayat masih dikandung badan. Selama dunia ini masih ada. dia bergandengan-berdampingan. Keburukan berkata, “Lebih tinggi kepalaku daripadamu.” Haq menjawab, “Tetapi, kakiku lebih mantap dari kakimu.” Lalu, kebatilan kembali berkata, “Manusia kaya dan manusia kuat bersamaku.” Kebaikan berkata, “Yang bijak itu bersamaku.” Kemudian, yang batil berkata, “Wujudku akan lebih lama dari wujudmu.” Kebaikan juga berkata, “Wujudku berlanjut hingga setelah dunia ini kiamat.” Kebatilan mengatakan, “Ku bunuh, kau!” Kebaikan menjawab, ”Aku memiliki seribu nyawa. Jika kau membunuhku, anak cucuku akan membunuhmu.”
Dari cerita pertarungan haq dan batil di atas, Quraish Shihab memberi penjelasan yang sufistik. Menurutnya, walaupun kebatilan tampak meninggi, tetapi yang pasti, kebenaran (al haqq) satu saat akan muncul.
Keyakinan akan kemenangan sisi kebenaran merupakan pesan Quran yang harus diresapi setiap manusia beriman. Karena maksud itu, dapat dipahami, mengapa Allah swt memilih bulan Ramadhan sebagai waktu diturunkannya Al-Qur'an, dengan tujuan, “…sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil,”(QS. 2:185).
Mendapat petunjuk
Setelah melalui dua jalan: pengendalian diri dan berada di sisi kebenaran, maka puasa akan membawa manusia beriman kepada fase cinta (mahabbah) karena ada ada perasaan dekat kepada Allah swt. Oleh karena itu, tidak perlu ada perasaan khawatir karena Allah swt tidak akan meninggalkan hamba yang demikian (QS. 9:40) sehingga tidak perlu bersedih hati (QS. 10:62).
Apa yang dimaksud dengan pernyataan Allah dekat dengan hambanya, lalu bagaimana hal demikian menjadi salah satu cara agar manusia beriman mendapatkan petunjuk. Jika membaca lebih detail lagi Al Baqarah: 186, maka jawabannya ada pada urutan yang rinci. Pertama, Allah swt menyampaikan kabar gembira bahwa Dia dekat dengan hambanya. Lalu, Dia akan mengabulkan permintaan hambanya jika mereka memohon. Kemudian, poin ini penting, bahwa untuk mendapatkan petunjuk, maka hambanya haruslah mematuhi perintah-Nya dan beriman kepada-Nya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ustaz-subhan-m-isa-sag-ma-penceramah-safari-ramadhan.jpg)