Opini
Jalan Menuju Fitrah
SECARA umum, ibadah dalam Islam selalu bersifat dua dimensi: sosial dan ilahiah. Shalat, selain mendekatkan diri kepada Allah swt
Buya Hamka, dalam tafsir Al Azhar, memberi penjelasan mengenai ayat ini. Menurutnya, kedekatan dan pengabulan doa haruslah dengan sikap dari hamba yang menyambut seruan Tuhan, dengan cara itulah maka petunjuk akan diberikan kepada mereka.
Penekanan pesan pada ayat di atas adalah tentang taat dan patuh. Begitulah sebenarnya relasi terdalam antara hamba dengan Tuhannya. Taat dan patuh merupakan prasyarat turunnya petunjuk dari Tuhan kepada hambanya agar tidak tersesat di dunia. Di ayat-ayat lain, Al Quran menunjukkan hubungan erat itu: ketaatan kepada Rasul akan mendapat petunjuk (QS. 24:54), berpegang pada Allah akan diberi petunjuk yang lurus (QS. 3:101), sikap sungguh-sungguh di jalan Allah akan ditunjukkan jalan-Nya (QS. 29:69), dan beriman kepada Allah makan akan mendapat petunjuk (64:11).
Ketiga jalan itu: pengendalian diri, berdiri di sisi kebenaran, dan mendapat petunjuk merupakan bentuk dari latihan (riyadhah) sampai mendapatkan hasil maksimal sebagai manusia beriman. Allah swt telah memilih bukankah Ramadhan sebagai medium untuk meraih ketiga hal itu. Dengan melewati tiga jalan itu, maka harapan bahwa ibadah puasa di bulan Ramadhan akan membentuk manusia yang kembali ke fitrahnya, yaitu keadaan asal manusia yang cenderung kepada kebenaran.
Dalam percakapan sehari-hari kita, fitrah juga dimaknai sebagai wujud diri yang suci, baik tubuh dan jiwa. Melalui transformasi kemanusiaan demikian, maka harapannya, manusia beriman dapat menjadi manusia paripurna. Yaitu satu keadaan eksistensialis yang diharapkan oleh Allah swt sejak awal mula penciptaannya: menjadi khalifah (wakil Tuhan di muka bumi) yang dapat menjaga dunia dari kehancuran serta membawa kehidupan manusia menjadi lebih baik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ustaz-subhan-m-isa-sag-ma-penceramah-safari-ramadhan.jpg)