Selasa, 12 Mei 2026

Opini

Ekonomi dan Nafsu: Ramadhan Mengoreksi Mazhab Ekonomi Barat

Mazhab Barat berbicara tentang pertumbuhan dan efisiensi. Islam berbicara tentang keadilan, keberkahan, dan hisab.

Tayang:
Serambinews.com/HO
M SHABRI ABD MAJID, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Oleh: M. Shabri Abd. Majid*)

Ramadhan telah sampai di penghujungnya—ia segera berlalu. Gema takbir mulai terasa di kejauhan, belum sepenuhnya bersahut-sahutan, seolah memberi isyarat bahwa fitri kian mendekat dan Ramadhan bersiap pergi.

Seperti tamu agung yang datang dalam sunyi, ia pun beranjak tanpa gaduh. Tidak ada perpisahan yang riuh—hanya kesadaran yang pelan menghujam: sesuatu yang tak tergantikan sedang meninggalkan kita.

Namun sebelum benar-benar pergi, Ramadhan meninggalkan pelajaran yang sunyi namun mengguncang: manusia tidak hanya hidup dari dorongan untuk memiliki, tetapi dari kemampuan untuk menahan diri.

Puasa bukan sekadar menunda makan; ia adalah disiplin batin—latihan diam untuk menundukkan self-interest (kepentingan diri) yang selama ini dianggap sebagai mesin utama perilaku manusia.

Di titik ini, fondasi ekonomi modern mulai bergetar. Sejak Adam Smith menulis The Wealth of Nations, dunia menaruh iman pada pasar: bahwa self-interest, melalui invisible hand (tangan tak terlihat), akan bertransformasi menjadi kesejahteraan kolektif.

Mazhab neoklasik memformalkannya—nilai lahir dari preferensi subjektif dan scarcity (kelangkaan), manusia direduksi menjadi homo economicus (manusia rasional ekonomi) yang tak pernah berhenti memaksimalkan utility (kepuasan).

Keynes meragukan pasar, Marx menggugat struktur means of production (alat produksi), namun keduanya tetap bertolak dari asumsi yang sama: manusia adalah agen ekonomi yang rasional. 

Dan di sinilah Ramadhan mematahkan asumsi itu—tanpa debat, tanpa rumus. Ia tidak menolak rasionalitas, tetapi menaklukkannya.

Ia tidak menghapus keinginan, tetapi mengujinya. Karena masalah terbesar ekonomi bukan pada kelangkaan—melainkan pada nafsu yang tak pernah mengenal cukup.

Nilai Direduksi Mengikuti Nafsu

Mazhab neoklasik bertumpu pada asumsi bahwa manusia adalah homo economicus (manusia rasional ekonomi)—kalkulatif dan mengejar self-interest (kepentingan diri).

Nilai lahir dari subjective preferences (preferensi subjektif): apa yang diinginkan dan dibayar, itulah yang bernilai; pasar dianggap netral, moralitas dikeluarkan dari kurva permintaan. 

Namun di sinilah problem bermula—ketika nilai diserahkan pada selera, ekonomi kehilangan arah normatifnya.

Ia tidak lagi bertanya apa yang baik, hanya apa yang diinginkan. Islam mengoreksi secara mendasar: “Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu” (QS. Al-Baqarah: 216).

Preferensi tidak selalu selaras dengan kebaikan. Jika nilai ditentukan oleh willingness to pay (kesediaan untuk membayar), pasar mudah menjadi cermin nafsu kolektif—apa pun yang laku seolah sah. Islam menolak reduksi ini. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved