Opini
Ekonomi dan Nafsu: Ramadhan Mengoreksi Mazhab Ekonomi Barat
Mazhab Barat berbicara tentang pertumbuhan dan efisiensi. Islam berbicara tentang keadilan, keberkahan, dan hisab.
Di sinilah Ramadhan berdiri sebagai kritik paling nyata terhadap mazhab-mazhab ekonomi modern. Puasa bukan teori—ia latihan.
Dalam neoklasik, manusia memaksimalkan utility (kepuasan). Dalam puasa, manusia justru menahannya.
Dalam kapitalisme, konsumsi menjadi mesin pertumbuhan. Dalam puasa, konsumsi dibatasi. “Diwajibkan atas kamu berpuasa… agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Takwa adalah mekanisme pengawasan internal—lebih dalam dari regulasi negara, lebih kuat dari insentif pasar.
Rasulullah SAW bersabda: “Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari-Muslim). Ia menundukkan nafsu yang membuat manusia tak pernah cukup.
Bahkan yang halal pun ditahan—apalagi yang haram. Di sinilah ekonomi Islam berbeda secara mendasar: ia tidak hanya mengatur transaksi, tetapi membentuk karakter economic agent (pelaku ekonomi).
Mazhab ekonomi Barat bertanya: bagaimana sistem bekerja. Islam bertanya: siapa yang menjalankan sistem itu.
Mazhab Barat berbicara tentang pertumbuhan dan efisiensi. Islam berbicara tentang keadilan, keberkahan, dan hisab.
Ramadhan tidak datang untuk mengganti kurva supply–demand (penawaran–permintaan), tetapi untuk membersihkan hati yang menggerakkan kebijakan dan modal.
Krisis terbesar kita bukan kekurangan teori, tetapi kekurangan hati yang dijaga. Selama nafsu menjadi penggerak utama, self-interest (kepentingan diri) mudah berubah menjadi kerakusan—apa pun sistemnya.
Namun ketika qalb dibersihkan, bahkan sistem yang sederhana dapat melahirkan keadilan.
Allah telah mengingatkan: “Dan sekiranya kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi…” (QS. Al-Mu’minun: 71). Jika kebenaran tunduk pada nafsu, bukan hanya pasar yang rusak—tatanan pun runtuh.
Karena itu Ramadhan hadir sebagai korektor sunyi: menahan keinginan sebelum ia merusak sistem.
Kini Ramadhan berada di penghujung—datang dalam sunyi dan pergi tanpa gaduh, namun meninggalkan jejak yang seharusnya tetap hidup: kesadaran bahwa manusia tidak diciptakan untuk diperintah oleh nafsunya.
Saat ia berlalu, kita kembali pada fitrah—kejernihan hati yang menempatkan wahyu di atas keinginan.
Selamat tinggal Ramadhan, selamat datang fitri—semoga yang kita jaga bukan hanya lapar dan dahaga, tetapi juga hati yang tetap tunduk, nafsu yang terarah, dan langkah yang seimbang antara kepentingan dan ketaatan.
*) PENULIS adalah Profesor di bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK). E-mail: mshabri@usk.ac.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Shabri-Abd-Majid-Mengulas-Tentang-Nasib-Gajah-Aceh.jpg)