Selasa, 12 Mei 2026

Opini

Ekonomi dan Nafsu: Ramadhan Mengoreksi Mazhab Ekonomi Barat

Mazhab Barat berbicara tentang pertumbuhan dan efisiensi. Islam berbicara tentang keadilan, keberkahan, dan hisab.

Tayang:
Serambinews.com/HO
M SHABRI ABD MAJID, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Manusia tidak berhenti pada homo economicus (manusia rasional ekonomi), tetapi menuju homo Islamicus (manusia berkesadaran nilai): tidak hanya menghitung, tetapi menimbang dan mempertanggungjawabkan.

Di sinilah relevansi Ramadhan—puasa melatih takwa sebagai mekanisme pengendalian diri, sehingga nilai tidak semata lahir dari permintaan, tetapi juga dari batas etika wahyu.

Tidak semua yang laku boleh diperdagangkan, tidak semua yang menguntungkan boleh dibenarkan.

Tanpa takwa, pasar menjadi mesin yang mengubah nafsu menjadi angka; dengan takwa, ia kembali menjadi ruang keseimbangan antara kepentingan dan tanggung jawab.

Rasionalitas Tanpa Takwa

Kapitalisme memuliakan self-interest (kepentingan diri), Keynesianisme mengandalkan stabilisasi kebijakan, dan Marxisme menggantungkan keadilan pada distribusi struktural—namun ketiganya bertumpu pada rasionalitas duniawi, seolah keteraturan cukup lahir dari insentif yang tepat.

Islam tidak menolak rasionalitas, tetapi mempertanyakan kecukupannya. “Dalam hati mereka ada penyakit” (QS. Al-Baqarah: 10) mengingatkan bahwa problem manusia bukan sekadar informasi atau insentif, melainkan kondisi batin.

Bahkan koruptor sangat rasional—beroperasi dengan cost-benefit calculation (perhitungan untung-rugi) dalam kerangka homo economicus (manusia rasional ekonomi)—namun yang rusak adalah hatinya. 

Baca juga: Korupsi Makin Merajalela, Bagaimana Hukum dan Sanksinya dalam Islam bagi Koruptor?

Di sinilah kegagalan mendasar teori modern: manusia diasumsikan cukup rasional, padahal juga digerakkan nafsu.

“Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu…” (QS. Shad: 26). Tanpa pengendalian, self-interest berubah menjadi kerakusan, distribusi menjadi penindasan, dan kebijakan menjadi populisme fiskal.

Karena itu Islam tidak hanya mengatur mekanisme, tetapi membentuk jiwa—sebab ekonomi bukan hanya tentang bagaimana manusia memilih, melainkan siapa manusia itu sendiri.

Struktur Tidak Menyelesaikan Nafsu

Karl Marx meyakini bahwa perubahan means of production (alat produksi) akan mengakhiri eksploitasi.

Namun sejarah menunjukkan: perubahan struktur tidak otomatis mengubah keserakahan. Sistem bisa berganti, tetapi self-interest (kepentingan diri) yang tak terkendali tetap melahirkan penindasan—hanya dengan wajah yang berbeda.

Islam melihat lebih dalam dari sekadar struktur. Persoalannya bukan hanya siapa yang memiliki, tetapi siapa yang memiliki qalb (hati) yang bersih.

Rasulullah SAW bersabda: “Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh.” (HR. Bukhari-Muslim).

Mazhab Barat membenahi sistem luar. Islam membenahi pusat batin. Selama qalb tidak disucikan, teori apa pun hanya akan menjadi alat baru bagi nafsu yang lama.

Puasa: Kritik yang Hidup

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved