Pojok Humam Hamid
Prabowo, Mualem, Tito, dan Kontemplasi Idul Fitri: “Panadol” dan “Normal Baru” Bencana Aceh
di hadapan publik, yang dibutuhkan adalah sentuhan langsung terhadap kehidupan sehari-hari rakyat.
Oleh: Ahmad Humam Hamid*)
Di Aceh, menjelang Idul Fitri 1447 H/2026, kehidupan sehari-hari masih berdenyut di antara dua dunia: dunia yang hancur karena banjir dan longsor, serta dunia tradisi, iman, dan harapan yang tetap hidup.
Rumah-rumah yang dulu bersih kini tertutup lumpur; sawah yang subur menyisakan jejak kehancuran; jalan dan jembatan yang menghubungkan kampung-kampung berubah menjadi rintangan fisik bagi setiap langkah.
Air minum bersih terbatas, fasilitas pendidikan dan kesehatan sebagian besar rusak, dan sumber penghidupan masyarakat menipis atau bahkan lenyap.
Di tengah kondisi regresif ini, tiga figur menjadi simbol penting kehadiran negara: Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem), Presiden Prabowo Subianto, dan Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian.
Permintaan daging makmeugang oleh Mualem kepada Presiden, kehadiran Tito Karnavian sepanjang Ramadan, serta kunjungan Presiden ke Aceh Tamiang pada Hari Raya Idul Fitri, menjadi rangkaian simbolik yang memperlihatkan negara hadir di tengah rakyat yang terluka.
Daging Meugang, Pengikat Harapan
Permintaan Mualem agar Presiden menyediakan sapi untuk meugang sempat menimbulkan tanya: mengapa bukan proyek besar rehabilitasi?
Namun di situlah letak kecerdasan politiknya.
Proyek besar memang dibicarakan dalam ruang teknokratis, tetapi di hadapan publik, yang dibutuhkan adalah sentuhan langsung terhadap kehidupan sehari-hari rakyat.
Meugang bukan sekadar makan daging; ia adalah ritual sosial, budaya, dan psikologis.
Dalam situasi pascabencana, ia menjadi pengikat harapan.
Ketika Presiden memenuhi permintaan itu, yang hadir bukan hanya sapi, tetapi simbol pengakuan: bahwa penderitaan rakyat Aceh dilihat dan dirasakan.
Kehadiran Presiden di Masjid Darussalam Tamiang, menyapa warga di hunian sementara, dan membagikan bantuan, memperkuat pesan bahwa negara tidak absen.
Di sisi lain, kehadiran Tito Karnavian menambah dimensi operasional.
Ia hadir dari awal hingga akhir Ramadan, memantau rehabilitasi sekolah, pesantren, hunian, dan fasilitas publik.
bencana Aceh
Prabowo di Aceh
Idul Fitri 2026
pojok humam hamid
Ahmad Humam Hamid
Serambinews.com
Serambinews
| Makar atau Tak Nyaman? Membaca Mujani, Amsari, Fahri Hamzah, dan Mahfud MD |
|
|---|
| Iran dan Gencatan Senjata: “Lamuek” Hormuz, Nuklir, dan Adi Kuasa Timur Tengah |
|
|---|
| Komunikasi Publik Menteri Purbaya: Kebingungan Teknokratis, Krisis Nasional, atau Tarian Populis? |
|
|---|
| Survei Nasional Terbaru Tentang Perang Iran: Sebaiknya Prabowo Ekstra Hati-Hati |
|
|---|
| Skenario Akhir Trump: Tumpulnya Strategi Bisnis Dalam Perang Iran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Ahmad-Humam-Hamid-iran.jpg)