Minggu, 3 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Prabowo, Mualem, Tito, dan Kontemplasi Idul Fitri: “Panadol” dan “Normal Baru” Bencana Aceh

di hadapan publik, yang dibutuhkan adalah sentuhan langsung terhadap kehidupan sehari-hari rakyat.

Tayang:
Editor: Zaenal
Serambinews.com/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. 

Ia menjembatani negara dengan rakyat melalui simbol yang sederhana tetapi bermakna. 

Presiden pun mendapatkan momentum untuk hadir secara lebih manusiawi, bukan sekadar institusional.

Namun apresiasi tidak boleh menutup ruang kritik. 

Pemerintah daerah, legislatif, dan seluruh pemangku kepentingan masih menghadapi tantangan besar. 

Rehabilitasi rumah berjalan lambat di beberapa wilayah. 

Infrastruktur belum sepenuhnya pulih.

Program ekonomi belum menjangkau semua kelompok terdampak.

Jika Panadol adalah tahap awal, maka yang dibutuhkan berikutnya adalah terapi jangka panjang: kebijakan yang konsisten, eksekusi yang cepat, dan keberpihakan yang nyata.

Aceh tidak membutuhkan sekadar pernyataan bahwa semuanya hampir selesai. 

Aceh membutuhkan bukti bahwa pemulihan benar-benar terjadi--di dapur rumah tangga, di sawah petani, di tambak nelayan, dan di ruang kelas anak-anak.

Pada akhirnya, Idul Fitri 2026 di Aceh adalah pertemuan antara harapan dan kenyataan. Antara simbol dan substansi. 

Antara Panadol dan penyembuhan.

Dan pertanyaan yang tersisa sederhana, tetapi menentukan: apakah kita akan berhenti pada rasa lega sesaat, atau melangkah menuju pemulihan yang benar-benar menyembuhkan?

Karena luka bisa saja diredakan, tetapi hanya tindakan nyata yang bisa benar-benar menyembuhkan.

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved