Senin, 27 April 2026

Pojok Humam Hamid

Prabowo, Mualem, Tito, dan Kontemplasi Idul Fitri: “Panadol” dan “Normal Baru” Bencana Aceh

di hadapan publik, yang dibutuhkan adalah sentuhan langsung terhadap kehidupan sehari-hari rakyat.

Editor: Zaenal
Serambinews.com/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. 

Ia tidak hanya datang, tetapi juga mengikuti ritme sosial masyarakat: berbuka bersama, menyerahkan bantuan ibadah, hingga menutup kegiatan Ramadan. 

Ini bukan sekadar birokrasi; ini adalah pendekatan emosional yang terstruktur.

Bagi masyarakat Aceh, semua ini adalah penting. 

Dalam bahasa sederhana, kehadiran itu adalah Panadol. 

Ia meredakan nyeri, menenangkan kegelisahan, dan memberi rasa bahwa mereka tidak ditinggalkan.

Namun seperti Panadol, efeknya sementara.

Realitas di lapangan tetap keras. 

Lebih dari 144.000 rumah rusak, ribuan di antaranya hancur atau tidak layak huni. 

Sekitar 107.000 hektare lahan pertanian terdampak, dengan sebagian besar gagal panen. 

Tambak-tambak ikan yang menjadi tulang punggung ekonomi pesisir--sekitar 30.000 hektare--rusak parah. 

Ribuan keluarga kehilangan mata pencaharian utama mereka.

Air minum bersih menjadi masalah serius. 

Sumur-sumur tercemar, distribusi air tidak stabil, dan masyarakat harus berjuang untuk kebutuhan paling dasar. 

Di beberapa wilayah, harga kebutuhan pokok meningkat karena distribusi terganggu, sementara pendapatan menurun drastis.

Baca juga: Jika Tak Sesuai Standar, Prabowo Instruksikan Penutupan Sementara SPPG

Pemulihan Atau Penyesuaian?

Di tengah kondisi ini, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah kita sedang menyaksikan pemulihan, atau sekadar penyesuaian terhadap keadaan yang belum pulih?

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved