Sabtu, 2 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Prabowo, Mualem, Tito, dan Kontemplasi Idul Fitri: “Panadol” dan “Normal Baru” Bencana Aceh

di hadapan publik, yang dibutuhkan adalah sentuhan langsung terhadap kehidupan sehari-hari rakyat.

Tayang:
Editor: Zaenal
Serambinews.com/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. 

Pernyataan Presiden bahwa kondisi sudah “hampir 100 persen” membuka ruang tafsir yang luas. 

Apakah itu berarti kehidupan telah kembali normal?

Jika “normal” berarti tidak ada lagi tenda di pinggir jalan, maka mungkin benar. 

Jika “normal” berarti bantuan telah dibagikan dan kunjungan pejabat telah dilakukan, maka laporan bisa ditutup dengan catatan memuaskan.

Namun jika “normal” berarti air minum tersedia secara layak, rumah kembali menjadi ruang aman, sawah kembali produktif, tambak kembali hidup, dan desa tidak lagi terisolasi--maka jawabannya belum.

Di sinilah “hampir 100 persen” terasa seperti Panadol: meredakan rasa sakit di permukaan, tetapi tidak menyembuhkan akar masalah. 

Ia memberikan rasa pulih, tetapi belum menghadirkan pemulihan yang sesungguhnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, jangan-jangan yang sedang berubah bukan kondisi di lapangan, melainkan definisi “normal” itu sendiri. 

Normal bukan lagi keadaan sebelum bencana, tetapi sekadar kondisi ketika penderitaan sudah cukup terkendali untuk tidak lagi mengganggu narasi resmi.

Ini adalah bentuk “normal baru” yang regresif: masyarakat bertahan dalam keterbatasan, sementara negara menganggap kondisi sudah cukup stabil.

Baca juga: Seribuan Warga Terima THR dari Gubernur Aceh Mualem

Idul Fitri, Momen Melihat ke Dalam

Idul Fitri memberikan konteks reflektif yang kuat. 

Ia bukan hanya perayaan, tetapi momen untuk melihat ke dalam: mensyukuri, mengevaluasi, dan memperbarui komitmen. 

Dalam konteks Aceh, Idul Fitri 2026 menjadi cermin dari dua hal: kehadiran negara yang patut diapresiasi, dan kenyataan bahwa pekerjaan besar belum selesai.

Peran Mualem dalam konteks ini patut diapresiasi. 

Ia memahami bahwa rakyat tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga sentuhan emosional. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved