Jurnalisme Warga
Nikmatnya Safari Tarawih, Kenangan dari Ramadhan 1447 H
safari Tarawih sebagai sebuah ikhtiar untuk melaksanakan shalat Tarawih dan Witir dengan berkeliling dari satu masjid ke masjid atau meunasah lainnya.
Semua diterima dengan lapang dada, seolah mengajarkan bahwa kebersamaan lebih utama daripada perbedaan. Dan pada akhirnya, safari Tarawih bukan sekadar perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah perjalanan spiritual yang menemukan kenikmatan, kedamaian, dan kehangatan dalam setiap pertemuan dan silaturahmi.
Sebuah kebanggaan yang begitu terasa ketika sekitar 60 persen jemaah Tarawih diisi oleh kaum muda. Mereka bukan hanya hadir sebagai jemaah, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan ibadah Tarawih dan qiyamullail, menghadirkan semangat yang hidup di tengah malam-malam Ramadhan. Memasuki sepuluh malam terakhir, tepatnya setelah malam ke-20 Ramadhan, suasana masjid tetap dipenuhi jemaah, dengan jumlah yang masih bertahan sekitar 70 hingga 80 persen daripada biasanya. Ini menjadi gambaran keteguhan hati masyarakat dalam meraih keutamaan malam-malam yang penuh berkah selama Ramadhan.
Pelaksanaan qiyamullail pun berlangsung di hampir seluruh masjid dan meunasah, khususnya di Kota Banda Aceh. Ibadah ini dimulai sekitar pukul 02.30 WIB hingga menjelang imsak, dilanjutkan dengan santap sahur yang telah disediakan bersama, lalu ditutup dengan pelaksanaan shalat Subuh berjemaah. Syahdu sekali.
Ada kebahagiaan yang tak selalu dapat diukur dengan kata-kata, tetapi begitu terasa merayap dalam setiap langkah safari Tarawih. Dari satu masjid ke masjid lainnya, saya menemukan wajah-wajah yang tidak sekadar hadir, tetapi menjadi jembatan silaturahmi yang menghangatkan jiwa.
Sesudah shalat Isya dan sunat kita menikmati ceramah singkat sekitar 15 hingga 20 menit yang menyejukkan hati. Namun, di beberapa tempat, keheningan justru menjadi bahasa yang lebih dalam; tanpa ceramah, hanya doa yang mengalun lirih, seakan langsung mengetuk pintu langit.
Begitu juga dalam setiap selang dua atau empat rakat shalat Tarawih, doa-doa hadir dalam ragam cara. Ada yang dipanjatkan dengan suara oleh bilal, ada yang tidak bersuara, tetapi dilaksanakan sendiri-sendiri oleh jemaah.
Perbedaan itu tidak pernah menjelma menjadi jarak, apalagi pertikaian, melainkan menjadi warna yang memperindah kebersamaan ritual keislaman di Aceh.
Kita berharap, ikhtiar ini dapat menjadi sebuah pola dalam memakmurkan malam-malam Ramadhan melalui safari Tarawih yang tidak hanya menghidupkan ibadah, tetapi juga merajut kembali tali silaturahmi yang semakin erat. Dari langkah yang berpindah dari satu masjid ke masjid lainnya, semoga tumbuh kelapangan hati untuk menerima perbedaan yang ada, tanpa menjadikannya sumber perselisihan di kalangan umat. Sebab, pada hakikatnya, setiap keyakinan memiliki ruangnya masing-masing, dan tidak semestinya perbedaan itu melahirkan pertikaian, apalagi keributan, yang justru mencederai kesucian ibadah.
Biarlah Ramadhan menjadi ruang teduh, tempat di mana kebersamaan, toleransi, dan ketulusan berjalan beriringan menguatkan, bukan memisahkan atau memicu polarisasi.
Reportase berdasarkan pengalaman saya pribadi ini hendaknya bermanfaat bagi khalayak pembaca bahwa berpuasa di Aceh itu memang asyik, damai, dan khidmat.
Semoga Allah panjangkan umur kita agar dapat berjumpa kembali dengan Ramadhan pada tahun-tahun mendatang.
Jurnalisme Warga
Penulis JW
Nikmatnya Safari Tarawih
Kenangan dari Ramadhan 1447 H
ILYAS WAHAB GAM
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Progres Menggembirakan Koperasi Desa Merah Putih di Aceh Barat |
|
|---|
| Bermain Ular Tangga Sambil Kelola Emosi di Pesantren Baitul Arqam Muhammadiyah |
|
|---|
| Green Jihad, Menanam Harapan di Tanah Pernah Tenggelam |
|
|---|
| Ketika Manusia Mengagungkan AI, Terjadilah Pergeseran Nilai Agama dan Sosial |
|
|---|
| Lima Tahun UBBG, Kampus Bermutu dan Maju, Refleksi Dies Natalis Ke-5 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ILYAS-WAHAB-GAM-BARU.jpg)