Kupi Beungoh
Melalui "Pendidikan Agama Islam" Wujudkan SDM Unggul Indonesia Emas 2045
Kita melihat kondisi umat Islam sekarang ini, jauh lebih rusak dari orang-orang pada masa jahiliyah.
Oleh: Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M Ag
Kita melihat kondisi umat Islam sekarang ini, jauh lebih rusak dari orang-orang pada masa jahiliyah.
Rusaknya manusia pada masa Jahiliyah (sebelum Islam) ditandai dengan krisis moral, akidah, dan sosial yang parah, menyembah berhala (politeisme), memperlakukan wanita secara rendah, mengubur bayi perempuan hidup-hidup, serta maraknya riba, judi, dan peperangan antarsuku.
Menurut saya, dizaman sekarang ini jauh lebih parah. Pada masa jahiliyah, belum datang Islam, mereka melakukan semua itu dalam kondisi bukan seorang muslim, sementara dizaman sekarang ini, yang melakukannya umat Islam.
Bukankah ini lebih parah, lebih buruk, lebih rusak, lebih jahiliyah dari jahiliyah dimasa Rasulullah SAW?
Sekarang ini, kita baca dimedia-media, yang menuliskan bahwa kasus narkoba terdapat 4,15 juta kasus ditahun 2025, 13.000 kasus pemerkosaan, aborsi mencapai 2,3 - 2,5 juta, Kasus HIV di Indonesia 500.000 orang hidup dengan HIV (ODHIV) menempatkan Indonesia di peringkat ke-14 tertinggi di dunia.
Belum pernah kita dengar pada masa jahiliyah seorang anak, memiliki anak dari ayah kandung sendiri, setelah diperkosa oleh ayah kandung sendiri berulang kali.
Lalu anak tersebut melahirkan anak dari hubungan tersebut, sampai beberapa orang anak, tanpa ada yang mengetahui, sementara istri menyaksikan sendiri, tidak bisa bicara karena diancam oleh suami atau ayah kandung dari anak yang dia perkosa. Bukankah ini lebih bejat, lebih jahil? Namun ini yang saya dapati sekarang ini.
Kasus kemiskinan di Indonesia sebanyak 23,65 juta jiwa pada Maret 2025. Kasus perceraian di Indonesia tahun 2025 melonjak mencapai lebih dari 438.168 kasus.
Kasus korupsi merajalela, sementara rakyat, banyak yang tidak ada kerja, tidak ada penghasilan, banyak yang miskin bahkan kelaparan, padahal pemimpin dan pejabatnya di negeri ini sebagian besar muslim, namun tidak saling peduli.
Dalam kondisi demikian, bagaima kita dapat mewujudkan SDM Unggul Indonesia Emas 2045? Mustahil saya rasa. Apakah dengan cara melakukan perubahan kurikulum, seperti yang sudah dilakukan pemerintah selama ini, dan akan dilakukan lagi, berganti pemimpin berganti kurikulum?
Menurut pendapat saya, merubah kurikulum yang ada yaitu kurikulum merdeka, ke kurikulum cinta, bukan cara yang tepat untuk mempersiapkan SDM unggul Indonesia Emas 2045.
Jika ini terjadi, kita pastikan ke depan yang terjadi bukan "INDONESIA EMAS 2045", tapi "INDONESIA CEMAS" sebelum 2045.
Lalu bagaimana cara yang tepat? Mari kita lihat uraian detail bagaimana menyiapkan generasi unggul Indonesia Emas 2045 ditengah kondisi jahiliyah modern.
Pengertian Generasi Unggul
Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul menurut pendapat saya adalah kelompok muda yang memiliki kombinasi kecerdasan intelektual, cerdas spritual, cerdas sosial, punya skiil, berakhlak baik, sehat jasmani, serta memiliki kemampuan mengikuti dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Mendidik generasi ini membutuhkan pendidikan berbasis agama sejak dini, peran guru sebagai teladan, serta kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah.
Berikut ini Al-Qur'an menjelaskan tentang "Generasi Unggul" yang dikenal dengan Orang-Orang bertaqwa (generasi yang takut dan cinta kepada Allah diatas segala-galanya), itulah generasi Unggul. Generasi unggul atau Generasi terbaik adalah generasi pada masa Rasulullah, para sahabat, tabi'in, dan tabit-tabi'in. Ini sesuai dengan pesan Rasulullab dalam Hadits berikut ini;
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya..." (HR. Bukhari-Muslim).
Generasi Unggul itu adalah Generasi yang bertaqwa kepada Allah SWT. Dengan ciri-cirinya adalah ia seorang muslim (QS. Ali Imran: 102), ia melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya baik dalam keadaan sepi maupun ramai, lahir dan juga batin. Ia senang bersedekah QS. Ai Imran: 134), ia pandai menahan marah (QS. Ali Imran: 134), senang memaafkan manusia (QS. Ali Imran: 134),
Mereka itu orang-orang yang berbuat baik (QS. Ali Imran: 134). Yang cepat bertaubat jika berbuat salah (QS. Ali Imran: 135), mereka beriman pada yang gaib (QS. Al-Baqarah:4), menegakkan shalat (QS. Al-Baqarah:4), dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka (QS. Al-Baqarah:4), dan mereka yang beriman pada (Al-Qur’an)(QS. Al-Baqarah:4), beriman kepada (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah:4), dan mereka yakin akan adanya akhirat (QS. Al-Baqarah:4).
Mereka Berjihad dijalan Allah dengan harta, jiwa dan raga (QS. Al-Maidah 35), mereka berkata benar (QS. Al-Ahzab: 70), mereka orang yang Allah bimbing perbuatan dan perkataannya (QS. Al-Hadid: 28), mereka punya target akhirat dalam kehidupannya (QS. Al-Hashr: 18), yang memelihara hubungan keluarga (QS. An-Nisa'), yang percaya dengan hari kiamat (QS. Al-Hajj: 1),
Dengan demikian generasi unggul adalah generasi yang memiliki aqidah yang kuat, pribadi yang ta'at, bertaqwa (takut melakukan kejahataan dan senang berbuat kebaikan), senang menolong orang yang membutuhkan, punya akhlak yang baik, pribadi yang terjaga dari pergaulan bebas, memiliki kualitas ilmu yang mampu menjangkau perubahan zaman.
Melalui "Pendidikan Agama Islam" Wujudkan SDM Unggul Indonesia Emas 2045
Mewujudkan SDM Unggul Indonesia Emas 2045, ditengah kondisi jahiliyah modern, bukanlah hal mudah.
Butuh pemikiran, kekuatan, keseriusan, keikhlasan, kecintaan yang tinggi terhadap Syari'at Islam, selain kesabaran dan dukungan penuh dari orang tua, sekolah, masyarakat dan pemerintah.
Cara mendidik generasi unggul di tengah kondisi jahiliyah modern sekarang ini, harus dengan yang cara yang dicontohkan Rasulullah.
Harus dengan langkah-langkah yang dicontohkan oleh Rasulullah, ketika Rasullah merubah masyarakat jahiliyah kepada Islam pada zaman dahulu. Kelau tidak demikian, maka hanya "Unggul Di Atas Kertas Tapi Tidak Berkualitas".
Cara yang tepat untuk mewujudkan SDM unggul adalah dengan menjadikan Al-Qur'an, dan Sunnah sebagai kurikukum utama dan kurikukum wajib selain ilmu yang terkait dengannya.
Menjadikan Al-Qur'an dan Hadits sebagai kurikulum wajib dalam pendidikan anak-anak muslim di tiap jenjang pendidikan.
Cara yang tepat untuk mewujudkan SDM unggul adalah dengan mengembalikan kurikukum pendidikan Umat Islam kepada khittahnya yaitu Pendidikan Agama Islam sebagaimana yang pernah di contohkan dan diwariskan oleh Rasulullah SAW.
Apa yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam mendidik umatnya yaitu memastikan setiap anak didik (umat Islam) menguasai Al-Qur'an, Hadits dengan baik dan benar. Baik itu bacaan, cara baca, hafalan, pemahaman dan praktek dari setiap Ayat Al-Qur'an dan Hadits.
Untuk kondisi sekarang, anak didik wajib belajar ilmu yang terkait dengan Al-Qur'an dan Hadits untuk menumbuhkan keyakinan dan kebanggan terhadap Al-Qur'an dan Hadits.
Memastikan anak didik menguasai B.Arab agar ia bisa memahami Al-Qur'an dan Hadits dengan baik dan benar. Memastikan anak didik mampu mempraktekkan semua ibadah wajib dan sunat.
Memastikan anak didik memahami segala hukum (Fikih) dari fikih thaharah sampai fikih siyasah sebagai jalan, ukuran, batas, standar dalan melakukan segala aktifitas hidup. Dan memastikan anak didik sudah membaca dan mendengar sirah Nabawiyah sebagai teladan dan idola dalam kehidupan.
Selain itu, memastikan anak didik menjadikan Al-Qur'an dan Hadits sebagai dasar dalam pengembangan setiap ilmu yang ia pelajari, sekaligus belajar segala ilmu yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Hadits seperti matematika, fisika, biologi, IT dan lainnya, agar ia menjadi seorang ahli dalam bidang tertentu untuk kemashlahatan umat untuk menjaga umat dan Syari'at Islam. Misalnya; ahli ekonomi, ahli politik, ahli pendidikan, ahli kesehatan dan ahli-ahli lainnnya
Bagaimana caranya? Berikut ini adalah Langkah-langkah yang kita lihat Rasulullah lakukan dalam mendidik "Generasi Unggul" pada masa kenabian.
Langkah pertama; Rasulullah mendidik dengan memberi contoh teladan.
Oleh karena itu untuk mendidik generasi unggul, seorang guru dan orang tua harus menjadi teladan dalam urusan aqidah, ibadah, penguasaan ilmu, skiil, akhlak dan amal shaleh.
Karena orang tua, guru, wajib memberi teladan kepada anak sendiri atau anak didik dalam hal pengamalan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur'an dan sunnah seperti perihal aqidah, pengamalan ibadah, penguasaan ilmu, skiil, akhlak dan amal shaleh. Sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah SAW.
“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab Ayat 21).
Langkah kedua; Rasulullah mendidik dengan pembiasaan.
Rasulullah membiasakan para sahabat dengan nilai-nilai Al-Qur'an, baik itu membiasakan mereka membaca Al-Qur'an, menghafalkan, memahami, memikirkan dan membiasakan mereka mengamalkan satu persatu nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW.
Oleh karena itu guru dan orang tua, wajib memberikan pembiasaan kepada anak sendiri atau anak didik dalan pengamalan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah ketiga, Rasulullah mendidik atau mengajar (menanam pengetahuan) dengan lemah lembut.
Kita melihat Rasulullah mengajarkan para sahabat tentang Al-Qur'an Dan Sunnah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Mengajar hafalan Qur'an, mengajar hadits, mengajar hukum (fikih), sejarah orang-orang terdahulu, dan lainnya.
Oleh karena itu, dalam langkah ketiga ini orang tua dan guru, sedari dini wajib mengajarkan anak atau anak didik berbagai pengetahuan tentang Al-Qur'an dan Hadits, atau yang terkait dengannya baik itu bacaan, hafalan, pemahaman dan prakteknya dengan baik dan benar, sebagai dasar dan pedoman hidup.
Selain itu orang tua dan guru wajib mengajarkan Bahasa Arab kepada setiap anak didik agar ia dapat memahami dan mengamalkan Al-Qur'an dan Hadits dalam kehidupan sehari-hari.
Mengajar praktek ibadah wajib, ibadah sunnah, tentang kewajiban menutup aurat menundukkan pandangan, berkata baik atau diam, amanah, beramar ma'ruf nahi munkar, saling tolong menolong atau ibadah praktis lainnya. Anak didik juga wajib diajarkan tentang sirah Nabawiyah, sebagai contoh teladan, sebagai idola dan motivasi dalam berbuat kebaikan.
Anak didik harus diajarkan tentang baca tulis dan berhitung, agar anak didik, tidak sibuk dengan gedged dan medsos, tapi sibuk belajar dan menbaca berbagai buku sedari kecil.
Kepada sebagian Anak didik yang ingin menjadi ahli dalam bidang tertentu wajib diajarkan berbagai pengetahuan modern yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah, untuk menjadi kekuatan dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan zaman seperti biologi, fisika, dan kimia, fisika, biologi, matematika sesuai bidang keahlian yang diminati oleh anak didik pada jenjang tertentu.
Langkah keempat, pengawasan.
Artinya setiap anak didik diawasai bersama, tanpa pilih-pilih. Yang mengawadi adalah guru, orang tua, masyarakat dan pemerintah berkaitan dengan prilaku-prilaku anak didik.
Langkah kelima; nasehat.
Kita bisa melihat ayat-Ayat Al-Qur'an dan Hadits berikut ini tentang keutamaan memberi nasehat sebelum memberi hukuman.
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al 'Ashr, 1-3)
Dalam Hadits, Rasulullah menyebutkan;
Agama adalah nasehat”. Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?”. Beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan umat muslim seluruhnya” (HR. Muslim).
Dalam Hadits lain Rasulullah menyebutkan;
"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya."
(HR. Muslim)
Langkah ke enam; Reward dan punishment.
Ketika terdapat penyimpangan prilaku pada anak didik, maka orang tua, guru, masyarakat dan pemerintah membuat aturan dan kebijakan yang dapat membatasi perluasaan, pergerakan dan pengembangan prilaku buruk anak didik tersebut.
Ketika mendapat hal-hal yang positif pada anak didik, maka orang tua, guru, masyarakat dan pemerintah memberikan penghargaan yang dapat memotivasi anak didik untuk terus berbuat baik sepanjang hidupnya.
Langkah ketujuh; berdo'a agar anak atau anak didik mudah memahami pelajaran yang disampaikan.
Setelah usaha dilakukan dengan maksimal, tugas orang tua dan guru adalah berdo'a kepada Allah, agar apa yang ia usahakan memberi hasil dan mudah bagi anak atau anak didik dalam belajar dan mudah baginya memahami pelajaran yang diberikan oleh guru di sekolah dan orang tua di rumah..
“'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan)..., (QS. Al' Ghafir : 60).
Dalam ayat lainnnya Allah sebutkan;
"Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186)
Langkah kedelapan; Tawakkal.
Tawakkal adalah akhlak seorang muslim setelah melakukan berbagai ikhtiar dan do'a dalam setiap urusan kehidupan dan kematiannya.
Sebagaimana pesan Ayat Al-Qur'an berikut ini;
"Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu“[Ath-Thalaq /65: 3].
Dengan demikian, kita bisa melihat Rasulullah SAW dalam mendidik atau mengajar Agama Islam kepada sahabat dan umat dengan cara lemah lembut, dengan cara bertahap sampai kemudian lahir manusia-manusia unggul yaitu para sahabat. Ditangan para sahabat, Islam berjaya, Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia, sampai umat Islam menguasai 3/4 Jazirah Arab. Langkah-langkah pembentukan generasi Unggul yang dilakukan Rasulullah adalah dengan memberikan teladan, pembiasaan, pengajaran, pengawasan, nasehat, rewerd dan funishment, do'a dan tawakkal.
Penulis adalah Dosen Pendidikan Agama Islam UIN Ar Raniry Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Ainal-Mardhiah-SAg-MAg_Dosen-UIN-Ar-Raniry-Banda-Aceh_30062025.jpg)