Jumat, 8 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Akankah Darurat Energi Menjadi Kiamat Energi Bagi Asia dan Indonesia?

Lonjakan harga energi dan bahan pokok bisa memicu ketidakpuasan publik, protes, dan tekanan politik. 

Tayang:
Editor: Subur Dani
Serambinews.com
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Foto direkam pada acara program Apit Awe, di studio Serambinews.com, Februari 2026. 

Asia menghadapi realitas pahit: tanpa strategi energi matang dan mitigasi cepat, konflik global bisa berubah menjadi “kiamat energi” yang menekan masyarakat, ekonomi, dan politik secara bersamaan. 

Bagi Indonesia, kemampuan pemerintah dalam mengelola harga energi, memastikan pasokan, dan berkomunikasi secara efektif dengan publik menjadi ujian terbesar bagi keberlangsungan pemerintahan dan stabilitas nasional.

Baca juga: Trump Buka Opsi Kuasai Minyak Iran, Target Pulau Kharg, Ketegangan Global Memanas

Selain itu, ketergantungan pada impor energi dan keterbatasan kapasitas produksi domestik membuat Indonesia rentan terhadap guncangan global. 

Infrastruktur energi yang terbatas, baik untuk kilang minyak, terminal LNG, maupun distribusi bahan bakar, memperparah kerentanan ini. 

Jika harga global naik cepat, dampak pada industri, transportasi, dan rumah tangga bisa sangat tajam, memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat.

Langkah-langkah strategis seperti pengembangan energi terbarukan, efisiensi energi di sektor industri, transportasi, dan rumah tangga, serta pembangunan cadangan strategis menjadi sangat krusial. 

Pembangunan energi terbarukan juga membuka peluang ekonomi baru, seperti pengembangan industri baterai, kendaraan listrik, dan teknologi hijau, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.

Dampak sosial dari krisis energi juga tidak bisa diabaikan. 

Antisipasi Kepanikan Publik

Lonjakan harga energi dan bahan pokok bisa memicu ketidakpuasan publik, protes, dan tekanan politik. 

Oleh karena itu, pemerintah harus mampu menyeimbangkan antara menjaga daya beli masyarakat, stabilitas fiskal, dan kelangsungan pasokan energi

Strategi komunikasi yang jelas dan transparan juga penting untuk mengurangi ketidakpastian dan kepanikan publik.

Dengan skenario jangka panjang, pemerintah perlu memprioritaskan pembangunan kapasitas produksi energi domestik, pengembangan energi terbarukan, dan diversifikasi pasokan energi dari berbagai negara. 

Kerja sama regional, termasuk dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara dan Asia Selatan, juga bisa memperkuat ketahanan energi regional. 

Diplomasi energi menjadi instrumen penting untuk mengamankan pasokan dan stabilitas harga, serta untuk mendorong investasi asing di sektor energi domestik.

Baca juga: VIDEO Satu Prajurit TNI Gugur Usai Terkena Serangan Israel di Lebanon

Krisis energi global menegaskan bahwa ketahanan energi bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga keamanan nasional dan politik. 

Indonesia, sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dan populasi besar, harus segera menyusun strategi komprehensif yang menggabungkan diversifikasi energi, efisiensi konsumsi, cadangan strategis, dan diplomasi energi global. 

Tanpa langkah-langkah ini, krisis energi bisa berdampak panjang, tidak hanya pada harga energi, tetapi juga pada stabilitas sosial, politik, dan ekonomi secara keseluruhan.

Baca juga: Balas Serangan AS, IRGC Gempur Pabrik Aluminium UEA-Bahrain, Pasokan Global Terancam

Akhirnya, pengalaman Asia dan Indonesia menghadapi krisis energi mengajarkan bahwa energi harus dipandang sebagai instrumen strategis yang memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat. 

Keterbatasan pasokan, ketergantungan impor, dan volatilitas harga global menuntut perencanaan matang dan mitigasi proaktif.

Jika negara mampu mengelola krisis dengan efektif, peluang untuk memperkuat ketahanan energi, stabilitas ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat tetap terbuka. 

Namun, tanpa strategi yang tepat, konflik energi global dapat berubah menjadi “kiamat energi” yang menekan semua sektor kehidupan secara bersamaan, mulai dari ekonomi, sosial, hingga politik, termasuk di Indonesia.(*)

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis 

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved