Pojok Humam Hamid
Akankah Darurat Energi Menjadi Kiamat Energi Bagi Asia dan Indonesia?
Lonjakan harga energi dan bahan pokok bisa memicu ketidakpuasan publik, protes, dan tekanan politik.
Oleh: Ahmad Humam Hamid*)
Asia kini berada di garis depan krisis energi global yang semakin serius dan kompleks.
Tekanan harga energi, gangguan pasokan, serta kerentanan struktural ekonomi yang menumpuk selama beberapa dekade semakin nyata dan terasa di seluruh kawasan.
Ketegangan politik dan konflik internasional semakin menambah risiko terhadap pasokan energi, sehingga negara-negara di Asia harus menghadapi dampak dari krisis yang tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sosial dan politik.
Konflik di Timur Tengah, terutama ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, menimbulkan ancaman serius terhadap jalur minyak dan gas yang vital bagi dunia.
Baca juga: Strategi Leher Botol - Choke Point: Thermopylae, Gallipoli, Ukraina, dan Hormuz
Salah satu jalur paling kritis adalah Selat Hormuz, yang memasok hampir seperlima kebutuhan energi global.
Gangguan atau ketegangan di jalur ini dapat menyebabkan lonjakan harga minyak mentah, gas alam cair (LNG), dan bahan bakar lainnya secara global.
Dampaknya langsung dirasakan di negara-negara Asia, termasuk Jepang, Korea Selatan, India, dan negara-negara ASEAN, yang sebagian besar sangat bergantung pada impor energi dari luar kawasan.
Dampak krisis energi bukan hanya berupa kenaikan harga secara singkat.
Kelemahan struktural ekonomi yang menumpuk selama bertahun-tahun semakin diperlihatkan.
Negara-negara dengan ketergantungan tinggi pada impor energi merasakan efek ganda: kenaikan biaya produksi industri, meningkatnya biaya transportasi dan pangan, serta tekanan inflasi yang bisa memicu ketidakpuasan masyarakat.
Geopolitik dan Ancaman Kiamat Energi
Dalam konteks ini, istilah “kiamat energi” menjadi relevan untuk menggambarkan kemungkinan dampak ekstrem: lonjakan harga energi yang luar biasa, tekanan inflasi, penurunan daya beli, dan risiko kerusuhan sosial-politik.
Kebijakan geopolitik masa lalu, seperti yang dilakukan oleh Donald Trump, meninggalkan warisan ketegangan yang memperlebar krisis energi saat ini.
Tekanan maksimum terhadap Iran, penarikan dari kesepakatan nuklir dan energi, serta kebijakan luar negeri yang agresif terhadap negara-negara penghasil energi telah membuat Selat Hormuz menjadi titik rawan yang sangat strategis.
Setiap eskalasi politik di wilayah ini langsung berdampak pada pasar energi Asia.
Opini
opini serambinews
Humam Hamid
pojok humam hamid
Prof Humam Hamid
Meaningful
Saksikata
Eksklusif
energi
krisis energi
Asia
Indonesia
BBM
Krisis BBM
Selat Hormuz
Hormuz
Minyak Dunia
Cadangan Minyak
Kiamat
| Strategi Leher Botol - Choke Point: Thermopylae, Gallipoli, Ukraina, dan Hormuz |
|
|---|
| Prabowo, Mualem, Tito, dan Kontemplasi Idul Fitri: “Panadol” dan “Normal Baru” Bencana Aceh |
|
|---|
| Idul Fitri dan 116 Hari “Normal Baru” Bencana Aceh: Kehadiran Negara vs Kasih Sayang Negara |
|
|---|
| Perang Iran vs AS dan Israel: Bukti Hidup Negara Peradaban |
|
|---|
| Framing dan Narasi dalam Perang Iran vs AS dan Israel |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Humam-Hamid-Apit-awe.jpg)