Rabu, 29 April 2026

Pojok Humam Hamid

Akankah Darurat Energi Menjadi Kiamat Energi Bagi Asia dan Indonesia?

Lonjakan harga energi dan bahan pokok bisa memicu ketidakpuasan publik, protes, dan tekanan politik. 

Editor: Subur Dani
Serambinews.com
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Foto direkam pada acara program Apit Awe, di studio Serambinews.com, Februari 2026. 

Lonjakan harga minyak dan LNG bukan sekadar fenomena ekonomi, tetapi juga manifestasi dari ketidakpastian geopolitik yang kompleks dan sulit diprediksi.

Negara-negara Asia yang paling terdampak adalah yang memiliki ketergantungan impor tinggi. 

Jepang dan Korea Selatan, misalnya, hampir seluruh kebutuhan energinya berasal dari impor, terutama minyak dan gas. 

India, sebagai salah satu negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi cepat, juga menghadapi tantangan serupa. 

Begitu juga negara-negara ASEAN yang mengimpor LNG dan minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan industri dan transportasi. 

Baca juga: VIDEO - Perang Iran vs AS Israel, Apa Dampaknya untuk Aceh dan Apa yang Harus Kita Persiapkan

Gangguan pasokan yang relatif kecil pun bisa memicu lonjakan harga yang signifikan, mengganggu ekonomi domestik, dan memicu tekanan inflasi.

Krisis energi ini tidak hanya masalah ekonomi jangka pendek. 

Bahkan jika konflik di Iran mereda atau tercapai gencatan senjata, pasokan energi tidak akan pulih secara instan. 

Infrastruktur penting seperti kilang minyak, terminal LNG, pabrik pemrosesan gas, dan ladang minyak yang rusak akibat konflik atau kekurangan perawatan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki dan diaktifkan kembali. 

Proses perbaikan ini meliputi evaluasi teknis, perancangan ulang, konstruksi, pengadaan peralatan, pengujian sistem, dan sertifikasi keselamatan. 

Dengan demikian, pemulihan parsial mungkin muncul dalam beberapa bulan pertama, tetapi pemulihan penuh dan stabilitas pasokan baru bisa tercapai dalam beberapa tahun.

Dampak nyata dari krisis energi sudah terlihat di berbagai negara Asia

Di Filipina, lonjakan harga LPG dan bensin memicu protes di kalangan supir transportasi umum, pengemudi ojek online, dan sektor transportasi lainnya. 

Di Vietnam, kenaikan biaya listrik bagi rumah tangga dan industri padat energi menekan pabrik tekstil dan elektronik yang menjadi andalan ekspor, mengurangi daya saing mereka di pasar global. 

Bangladesh mengalami tekanan pada pasokan LNG dan harga gas, sehingga biaya produksi industri meningkat tajam, dan biaya hidup masyarakat kota melonjak. 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved