Minggu, 19 April 2026

KUPI BEUNGOH

Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat di Aceh - Bagian I

Penumpukan sampah di sudut-sudut kota menjadi pemandangan yang kerap ditemui. Praktik pembakaran terbuka masih berlangsung dan mencemari udara. 

Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Khairul Fajri, S.K.M., M.K.M., Ketua Yayasan Aceh Peduli Sanitasi 

Oleh Khairul Fajri, S.K.M., M.K.M.

Permasalahan sampah di Aceh hari ini tidak lagi dapat dipandang sebagai isu kebersihan semata. 

Ia telah berkembang menjadi persoalan serius yang menyentuh aspek sanitasi, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. 

Di berbagai wilayah, baik di pusat kota seperti Banda Aceh maupun kawasan pinggiran, pengelolaan sampah masih didominasi pendekatan konvensional: kumpul, angkut, dan buang. 

Pola ini mungkin pernah relevan di masa lalu, namun dalam konteks saat ini, pendekatan tersebut tidak lagi memadai.

Pertumbuhan penduduk, perubahan pola konsumsi, serta meningkatnya aktivitas ekonomi turut mendorong peningkatan timbulan sampah secara signifikan. 

Di Banda Aceh, produksi sampah harian diperkirakan mencapai ratusan ton per hari, dengan komposisi terbesar berasal dari sampah organik rumah tangga. 

Baca juga: BERITA POPULER - Gaji ke-13 PNS Cair Usai Lebaran, Iran Sembunyikan Rudal dan Drone di Perut Gunung

Di sejumlah kabupaten/kota lain, tantangan serupa juga terjadi dengan skala yang berbeda. 

Persoalannya, kapasitas pengelolaan yang tersedia belum mampu mengimbangi peningkatan volume tersebut. 

Ketimpangan antara produksi sampah dan kemampuan pengelolaan inilah yang menjadi akar dari berbagai persoalan yang kita hadapi hari ini.

Dampak Nyata di Depan Mata

Akibatnya, berbagai persoalan yang seharusnya telah ditinggalkan justru masih terus terjadi. 

Penumpukan sampah di sudut-sudut kota menjadi pemandangan yang kerap ditemui. Praktik pembakaran terbuka masih berlangsung dan mencemari udara. 

Bahkan, tidak sedikit sampah yang berakhir di sungai dan saluran air, yang pada akhirnya merusak ekosistem serta meningkatkan risiko banjir.

Kondisi ini bukan hanya persoalan estetika lingkungan, tetapi juga ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat. 

Dalam perspektif global, United Nations Environment Programme (UNEP) menunjukkan bahwa pengelolaan limbah padat yang tidak terintegrasi merupakan salah satu sumber utama pencemaran lingkungan serta berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, khususnya metana dari tempat pembuangan akhir. 

Baca juga: VIDEO - IRGC Ancam Serang Kampus AS dan Israel di Timur Tengah, Respons atas Serangan di Teheran

Sejalan dengan itu, World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa pengelolaan limbah padat yang tidak aman meningkatkan risiko penyebaran penyakit melalui vektor seperti lalat dan tikus, serta berpotensi mencemari sumber air bersih yang digunakan masyarakat.

Dengan kata lain, persoalan sampah bukan hanya urusan lokal, tetapi bagian dari tantangan global yang berdampak langsung pada kualitas hidup manusia.

Potensi Besar yang Belum Dimaksimalkan

Di tengah berbagai persoalan tersebut, Aceh sebenarnya memiliki peluang besar untuk melakukan transformasi. 

Karakter sosial masyarakat yang kuat—seperti budaya gotong royong, kepedulian komunitas, dan peran aktif masyarakat gampong—merupakan modal sosial yang sangat berharga. Tidak semua daerah memiliki kekuatan ini.

Namun demikian, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam sistem pengelolaan sampah

Upaya yang dilakukan masih cenderung sporadis dan belum terintegrasi dalam satu kerangka sistem yang kuat. 

Padahal, jika dikelola dengan baik, modal sosial ini dapat menjadi penggerak utama perubahan di tingkat akar rumput.

Baca juga: DLH Nagan Raya Tegaskan Sampah Menumpuk di Pasar Simpang Peut Kuala Sudah Diangkut

Untuk itu, diperlukan dukungan sistem yang jelas, kebijakan yang konsisten, serta edukasi yang berkelanjutan agar potensi tersebut dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata yang berdampak luas.

Belajar dari Praktik Internasional

Dalam praktik internasional, paradigma pengelolaan sampah telah mengalami perubahan mendasar. 

Pengelolaan tidak lagi berfokus pada pembuangan akhir, tetapi pada pengurangan sejak dari sumber. 

Pendekatan ini dikenal sebagai waste hierarchy, yang dipromosikan oleh International Solid Waste Association, dengan menempatkan reduce, reuse, dan recycle sebagai prioritas utama sebelum opsi pembuangan.

Pendekatan ini terbukti mampu menekan volume sampah secara signifikan, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui pemanfaatan kembali material yang masih bernilai. 

Namun, keberhasilan implementasi konsep ini sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam hal pemilahan sampah sejak dari sumber.

Tanpa pemilahan, sistem daur ulang tidak akan berjalan optimal.  Akibatnya, sebagian besar sampah tetap berakhir di tempat pemrosesan akhir tanpa pengolahan yang memadai.

Tantangan di Lapangan

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa Aceh masih menghadapi berbagai tantangan dalam menerapkan sistem pengelolaan sampah modern. 

Salah satu tantangan utama adalah belum terbentuknya kebiasaan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. 

Sebagian besar masyarakat masih mencampur semua jenis sampah dalam satu wadah, sehingga menyulitkan proses pengolahan lanjutan.

Selain itu, keterbatasan infrastruktur juga menjadi kendala yang signifikan. Fasilitas seperti tempat pengolahan sampah terpadu, bank sampah, maupun teknologi pengolahan modern belum tersedia secara merata. 

Baca juga: Akankah Darurat Energi Menjadi Kiamat Energi Bagi Asia dan Indonesia?

Di sisi lain, sistem pengangkutan sampah juga masih menghadapi berbagai kendala operasional, mulai dari keterbatasan armada hingga manajemen rute yang belum efisien.

Aspek lain yang sering luput dari perhatian adalah perlindungan bagi para petugas pengelola sampah. Dalam banyak kasus, mereka masih bekerja dalam kondisi yang belum memenuhi standar keselamatan dan kesehatan kerja. 

Padahal, dalam praktik internasional, perlindungan terhadap pekerja merupakan bagian penting dari sistem pengelolaan sampah yang sehat dan berkelanjutan.

Menuju Sistem yang Lebih Sehat

Mengacu pada berbagai pedoman internasional, termasuk dari United States Environmental Protection Agency (EPA), sistem pengelolaan sampah yang baik setidaknya mencakup beberapa komponen utama. 

Pertama, adanya pemilahan sampah sejak dari sumber. Kedua, sistem pengumpulan dan transportasi yang aman, efisien, dan terjadwal. 

Ketiga, ketersediaan fasilitas pengolahan yang sesuai dengan kapasitas dan standar teknis. Keempat, perlindungan bagi pekerja. 

Baca juga: VIDEO Tradisi “Peusijuk Sarjana” di Samatiga, Warisan 66 Tahun yang Terus Hidup di Era Generasi Z

Dan kelima, sistem pemantauan serta pengawasan lingkungan yang berkelanjutan. Jika salah satu komponen tersebut tidak terpenuhi, maka sistem yang dibangun berpotensi menimbulkan masalah baru. 

Misalnya, tempat pemrosesan akhir yang tidak dikelola dengan baik dapat menghasilkan lindi yang mencemari air tanah, atau gas metana yang berpotensi menimbulkan kebakaran.

Peran Bersama, Bukan Hanya Pemerintah

Dalam konteks Aceh, membangun sistem pengelolaan sampah yang sehat tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. 

Pemerintah daerah memang memiliki peran penting dalam penyediaan regulasi dan infrastruktur, namun keberhasilan implementasi sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat.

Edukasi publik menjadi kunci utama. Masyarakat perlu memahami bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama. 

Perubahan perilaku sederhana—seperti membiasakan memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan mendukung program daur ulang—dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara kolektif.

Di sisi lain, dunia usaha juga memiliki peran strategis, terutama dalam mengurangi timbulan sampah dari hulu serta mendorong penerapan ekonomi sirkular. 

Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta menjadi fondasi utama dalam membangun sistem yang berkelanjutan.

Menanti Langkah Nyata

Tulisan ini merupakan bagian pertama dari rangkaian pembahasan mengenai strategi implementasi dan inovasi pengelolaan sampah di Aceh. 

Pertanyaannya, bagaimana memulai perubahan dari kondisi yang ada saat ini? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan dibahas pada bagian berikutnya.

Pada akhirnya, pengelolaan sampah bukan sekadar urusan teknis. Ia adalah cerminan komitmen terhadap kesehatan, lingkungan, dan masa depan generasi mendatang. 

Baca juga: Melalui "Pendidikan Agama Islam" Wujudkan SDM Unggul Indonesia Emas 2045

Aceh memiliki peluang besar untuk menjadi contoh dalam pengelolaan sampah berbasis sanitasi yang sehat dan berkelanjutan. 

Namun, peluang tersebut hanya akan terwujud melalui langkah nyata, kolaborasi yang kuat, dan kesadaran bersama dari seluruh elemen masyarakat.(*)

Penulis adalah Ketua Yayasan Aceh Peduli Sanitasi.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved