Selasa, 12 Mei 2026

Opini

Syawal: Bulan Peningkatan yang Tinggal Nama?

Dan akhirnya: apakah Syawal benar-benar bulan peningkatan—atau hanya tinggal dalam nama?

Tayang:
Serambinews.com/HO
SHABRI A MAJID - Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. 

Namun ketika diuji dalam realitas Aceh, makna ini justru tereduksi. Kemiskinan masih 12–13 persen (±700 ribu jiwa), di atas nasional; pengangguran relatif tinggi, produktivitas lemah, dan pertumbuhan tertahan.

Anggaran besar belum optimal—APBA 2026 sekitar Rp10,78 triliun didominasi belanja operasi (77,6 persen), sementara belanja modal hanya 6–7 persen, membatasi daya ungkit.

Secara rasional, ini seharusnya melahirkan lompatan. Namun faktanya, potensi besar belum terkonversi menjadi kinerja pembangunan yang signifikan. 

Namun yang terjadi belum demikian. Yang diharapkan: disiplin menjadi produktivitas, integritas menjadi sistem, empati menjadi kebijakan.

Yang terjadi: disiplin musiman, integritas situasional, empati episodik. Masalahnya jelas: bukan kekurangan nilai, tetapi kegagalan menjaga konsistensi nilai sebagai sistem.

Jika Ramadhan adalah fase ketika junnah (perisai) dipasang, maka Syawal seharusnya menjaganya. Namun yang terjadi, perisai melemah. Ruang bagi korupsi, manipulasi, malpraktik, dan moral hazard tetap terbuka.

Dalam ekonomi pembangunan, ini adalah kegagalan transmisi (inefficient transmission mechanism): nilai tidak menjadi perilaku, dan perilaku tidak naik menjadi sistem—melahirkan institutional gap, biaya tinggi, dan lemahnya kepercayaan.

Maka persoalannya tegas: Aceh tidak kekurangan nilai dan anggaran. Tetapi Aceh kekurangan konsistensi menjadikan nilai sebagai sistem pembangunan.

Karena itu, Syawal harus menjadi momentum merawat konsistensi—nilai menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi sistem, dan sistem menjadi kinerja.

Tidak ada posisi stagnan. Jika tidak meningkat, maka sedang menurun. Jika junnah dijaga, perubahan terakumulasi—ekonomi bergerak dan kesejahteraan tumbuh.

Jika dilepas, yang berulang hanyalah stagnasi. Ramadhan membentuk. Syawal seharusnya menguatkan. Jika tidak, maka pembangunan berjalan tanpa lompatan—dan Syawal gagal menjadi ruh pembangunan Aceh berkelanjutan, hanya tersisa sebagai nama tanpa daya.

Syawal sebagai Jalan Perubahan Nyata

Syawal tidak boleh berhenti sebagai ujian, tetapi harus menjadi perubahan—terutama dalam pembangunan Aceh.

Jika Ramadhan adalah pelatihan, maka Syawal adalah implementasi. Di sinilah diuji: apakah disiplin menjadi produktivitas, kejujuran menjadi integritas tata kelola, empati menjadi kebijakan publik, dan amanah menjadi pengelolaan anggaran yang bersih.

Secara ideal, nilai Ramadhan yang dijaga akan melahirkan Aceh yang benar-benar sejahtera: pertumbuhan naik, kemiskinan turun, pengangguran terkendali, dan kesejahteraan nyata.

Perilaku pejabat pun berubah—tanpa korupsi, tanpa manipulasi, tanpa moral hazard—karena junnah tetap hidup dalam setiap keputusan.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved