Kamis, 23 April 2026

KUPI BEUNGOH

Jejak Persia dalam Intelektual Islam Aceh: Dari Tasawuf ke Manuskrip Jawi - Bagian I

Ini menunjukkan bahwa jalur transmisi Islam ke Aceh tidak tunggal, melainkan melalui jaringan luas yang melibatkan Persia, India, dan Arab.

|
Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Tarmizi A Hamid atau Cek Midi, adalah pemerhati sejarah dan budaya Aceh dan Pendiri Rumoh Manuskrip Aceh 

Oleh Tarmizi A Hamid*)

Aceh sejak lama dikenal sebagai “Serambi Utama Mekkah”,  sebuah julukan yang menegaskan kedekatannya dengan pusat-pusat Islam di Timur Tengah. 

Namun, jika ditelusuri lebih dalam, wajah intelektual Islam Aceh tidak hanya dibentuk oleh pengaruh Arab semata. 

Ada jejak lain yang lebih halus, namun sangat mendalam dengan pengaruh Persia.

Jejak ini tidak hadir dalam bentuk kekuasaan politik atau ekspansi militer, melainkan melalui jalur yang lebih subtil—tasawuf, sastra, bahasa, dan jaringan ulama.

 Justru karena sifatnya yang “sunyi”, pengaruh Persia sering luput dari pembacaan sejarah arus utama.

Tasawuf sebagai Pintu Masuk

Salah satu pintu utama masuknya pengaruh Persia ke Aceh adalah melalui tradisi tasawuf. 

Pada abad ke-16 hingga ke-17, Aceh berkembang menjadi pusat studi Islam yang penting di Asia Tenggara. 

Para ulama yang datang dan belajar di sana tidak hanya membawa ajaran fikih, tetapi juga pemikiran sufistik yang telah berkembang pesat di dunia Persia.

Ajaran seperti konsep kesatuan wujud (wahdatul wujud) menjadi bagian dari diskursus intelektual di Aceh.

Pemikiran ini menekankan bahwa realitas sejati hanyalah Tuhan, sementara alam semesta adalah manifestasi darinya. 

Baca juga: Houthi Yaman Bantu Iran Lawan AS-Israel, Ini Dampaknya Jika Selat Bab al-Mandab Diblokade

Di tangan ulama Aceh, konsep ini tidak hanya dipahami secara filosofis, tetapi juga diungkapkan dalam bahasa puitis yang dekat dengan masyarakat.

Di sinilah kita melihat proses penting: bukan sekadar adopsi, tetapi transformasi. Tasawuf yang berakar dari tradisi Persia dan filsafat Islam kemudian “diterjemahkan” ke dalam konteks Melayu-Aceh.

Bahasa dan Manuskrip: Persia dalam Jawi

Pengaruh Persia juga tampak jelas dalam manuskrip Jawi Aceh. Banyak istilah yang digunakan dalam teks-teks keagamaan dan sastra Melayu ternyata berasal dari bahasa Persia, seperti “syah”, “bandar”, “diwan”, hingga “nakhoda”. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved