Kupi Beungoh
Menjaga Akal Sehat di Tengah Gejolak Energi
Namun pengalaman dari berbagai krisis menunjukkan bahwa masalah terbesar sering kali bukan sekadar kelangkaan energi, melainkan kepanikan sosial.
Bagi banyak nelayan, kenaikan harga solar bukan sekadar isu ekonomi makro, tetapi persoalan langsung yang menentukan apakah mereka dapat melaut atau tidak.
Karena itu, langkah paling mendasar yang harus dilakukan pemerintah daerah adalah mengelola informasi secara terbuka dan kredibel.
Kepanikan biasanya lahir dari ketidakpastian. Ketika masyarakat tidak mengetahui kondisi pasokan secara jelas, ruang spekulasi akan segera diisi oleh rumor, kabar yang belum terverifikasi, atau narasi yang dibesar-besarkan di ruang digital.
Transparansi mengenai ketersediaan bahan bakar, distribusi logistik, dan kebijakan stabilisasi menjadi kunci untuk meredam kepanikan.
Informasi yang disampaikan secara konsisten dan berbasis data dapat menjaga kepercayaan publik sekaligus mencegah perilaku pembelian berlebihan.
Langkah berikutnya adalah memastikan distribusi energi tetap adil dan terawasi. Dalam situasi ketidakpastian global, gangguan kecil dalam distribusi lokal dapat dengan cepat berkembang menjadi krisis kepercayaan.
Praktik penimbunan, spekulasi harga, atau distribusi yang tidak merata harus diantisipasi melalui pengawasan yang lebih ketat dan koordinasi lintas lembaga.
Namun lebih jauh dari sekadar langkah darurat, krisis energi global juga seharusnya dibaca sebagai pengingat strategis.
Ketergantungan berlebihan pada energi fosil impor membuat banyak negara, termasuk Indonesia, rentan terhadap dinamika geopolitik yang berada di luar kendali domestik. Setiap konflik di kawasan penghasil energi akan selalu membawa risiko ekonomi bagi negara-negara pengimpor.
Dalam konteks ini, Aceh sebenarnya memiliki peluang yang tidak kecil. Wilayah ini memiliki sejarah panjang sebagai kawasan energi, mulai dari gas alam hingga potensi energi terbarukan seperti mikrohidro dan tenaga surya.
Mengembangkan sumber energi lokal bukan hanya persoalan investasi ekonomi, tetapi juga bagian dari membangun ketahanan terhadap ketidakpastian global.
Pada akhirnya, krisis energi tidak hanya menguji kapasitas teknokratis pemerintah, tetapi juga kedewasaan sosial masyarakat. Ketika gejolak global terjadi, yang paling dibutuhkan bukanlah kepanikan, melainkan kejernihan berpikir.
Negara harus hadir dengan kebijakan yang tenang, transparan, dan terukur. Sementara masyarakat perlu merespons dengan sikap rasional, bukan reaksi impulsif yang justru memperparah situasi.
Dalam dunia yang semakin terhubung, konflik yang terjadi ribuan kilometer jauhnya dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat di daerah-daerah yang tampak jauh dari pusat gejolak.
Karena itu, menjaga stabilitas tidak hanya soal mengamankan pasokan energi, tetapi juga tentang merawat kepercayaan publik dan menjaga akal sehat bersama.
Dan dalam setiap krisis, akal sehat sering kali menjadi sumber daya yang paling berharga. (*)
*) Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA artikel KUPI BEUNGOH lainnya DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Guru-Besar-Bidang-Geologi-Kelautan-USK-Prof-Muhammad-Irham.jpg)