Selasa, 21 April 2026

Jurnalisme Warga

‘Cecah Reraya’, Makanan Khas Lebaran di Gayo Berbahan Kulit Kayu

Cecah reraya merupakan hidangan tradisional khas Gayo yang selalu dibuat secara khusus menjelang hari raya.

Editor: mufti
for serambinews/IST
WIRDAYANI 

Semua bahan diaduk sampai merata hingga bumbu benar-benar menyatu dengan potongan daging.

Cecah reraya biasanya tidak dimakan dengan nasi atau makanan lain. Hidangan ini langsung dimakan begitu saja, sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat. Hal ini membuat cecah reraya memiliki fungsi tersendiri, bukan sekadar sebagai lauk.

Saat dicicipi, rasanya memang cukup unik. Ada gurih dari daging dan keramil sele, aroma rempah yang terasa kuat, serta rasa pahit khas dari air pohon uwing.

Bagi yang belum terbiasa, mungkin terasa sedikit aneh, tetapi bagi masyarakat Gayo, justru di situlah letak keistimewaannya.

Selain soal rasa, proses pembuatannya juga memiliki nilai kebersamaan yang kuat. Biasanya dilakukan bersama keluarga, dari menyiapkan bahan hingga mencampur semuanya. Momen ini menjadi waktu untuk berkumpul dan berbagi cerita, terutama menjelang hari raya Idulfitri. Tidak hanya

itu, tradisi ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat Gayo memanfaatkan bahan-bahan alami yang ada di sekitar mereka. Bahkan, bahan seperti kulit kayu dapat diolah menjadi bagian dari makanan, sesuatu yang jarang ditemukan di daerah lain.

Cecah reraya juga menjadi salah satu simbol bahwa tradisi kuliner tidak hanya soal rasa, tetapi juga tentang pengetahuan lokal. Cara mengolah bahan, memilih takaran, hingga waktu penyajian semuanya memiliki makna yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Namun, di balik kesederhanaannya, cecah reraya menyimpan rasa yang sulit dilupakan. Tidak semua orang langsung bisa menyukainya, tetapi justru dari situlah muncul rasa penasaran.

Perpaduan rasa gurih, segar, dan pahit menciptakan pengalaman yang berbeda dari makanan pada umumnya.

Bagi masyarakat Gayo, rasa ini sudah sangat akrab. Bahkan, bagi yang merantau, cecah reraya sering menjadi salah satu makanan yang paling dirindukan saat hari raya. Dari satu suapan, seolah membawa kembali ingatan pada suasana rumah dan  kebersamaan keluarga.

Menariknya, tidak semua orang bisa membuat cecah reraya dengan rasa yang sama. Setiap keluarga biasanya memiliki ciri khas tersendiri. Ada yang lebih kuat rasa pahitnya, ada juga yang lebih seimbang. Hal ini membuat setiap sajian cecah reraya memiliki keunikan masing-masing.

Di sisi lain, proses pembuatannya juga membutuhkan ketelitian. Takaran bumbu harus pas, begitu juga dengan penggunaan air perasan pohon uwing. Karena itu, hanya orang yang sudah terbiasa yang benar-benar paham cara membuatnya dengan baik.

Seiring perkembangan zaman, tidak semua generasi muda masih mengenal atau mampu membuat cecah reraya. Padahal, di balik hidangan ini terdapat nilai budaya yang sangat penting.

Oleh karena itu, menurut saya, tradisi seperti ini perlu terus dilestarikan. Dengan tetap menjaga dan mengenalkan kembali cecah reraya, kita ikut merawat warisan dari generasi sebelumnya agar tidak hilang begitu saja.

Selain itu, memperkenalkan makanan tradisional seperti ini juga menjadi salah satu cara untuk menunjukkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved