Jurnalisme Warga
‘Cecah Reraya’, Makanan Khas Lebaran di Gayo Berbahan Kulit Kayu
Cecah reraya merupakan hidangan tradisional khas Gayo yang selalu dibuat secara khusus menjelang hari raya.
WIRDAYANI, Mahasiswi Prodi Bahasa Indonesia FKIP UBBG Banda Aceh, melaporkan dari Tekengon, Aceh Tengah
Menjelang hari raya, masyarakat Gayo di Takengon memiliki satu hidangan khas yang selalu hadir dan dinantikan, yaitu ‘cecah reraya’. Cecah reraya merupakan hidangan tradisional khas Gayo yang selalu dibuat secara khusus menjelang hari raya.
Bagi masyarakat Gayo, hidangan ini bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari tradisi yang sudah diwariskan sejak lama. Dalam keluarga saya, cecah reraya sudah dikenal turun-temurun. Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama dan masih terus dijaga sampai sekarang.
Menjelang hari raya, suasana di rumah biasanya mulai terasa berbeda. Salah satunya ketika cecah reraya mulai dibuat. Hidangan ini seperti menjadi tanda bahwa hari raya sudah semakin dekat.
Bahan utama yang digunakan adalah daging sapi yang sudah direbus, biasanya terdiri dari kulit, hati, dan sedikit daging.
Semua bagian ini dipotong kecil-kecil agar mudah dicampur dengan bahan lainnya.
Yang membuat cecah reraya berbeda dari makanan lain adalah penggunaan air perasan dari kulit kayu pohon yang dalam bahasa Gayo disebut pohon uwing. Dalam bahasa Indonesia, pohon ini dikenal sebagai pohon gaharu, dengan nama Latin Aquilaria malaccensis. Kulit kayu ini memiliki rasa pahit cukup kuat, yang menjadi ciri khas utama dari hidangan ini.
Untuk mengambil sarinya, kulit kayu disiram dengan air panas, lalu diperas dan disaring. Air hasil perasan inilah yang menjadi salah satu kunci rasa dalam cecah reraya. Proses ini tidak bisa dilakukan sembarangan, karena jika terlalu banyak, rasa pahitnya bisa terlalu kuat.
Menurut ibu saya, rasa pahit dari air pohon uwing ini bukan tanpa alasan. Biasanya, hidangan ini dimakan sebelum menyantap makanan lain.
Selain bahan utama dan air perasan kayu, cecah reraya juga menggunakan bumbu mentah. Bumbunya bawang putih, jahe, lengkuas, kunyit, serai, jintan, kapulaga, bunga lawang, dan buah pala. Semua bumbu ini tidak dimasak, melainkan hanya dihaluskan menggunakan blender, sehingga aroma dan rasanya tetap kuat dan terasa lebih alami.
Setelah itu, bawang merah yang sudah dirajang dimasukkan terpisah. Bawang merah ini memberikan aroma segar yang khas dan membuat rasa cecah reraya menjadi lebih seimbang.
Untuk penyedap, biasanya hanya digunakan lada dan garam. Bumbunya memang sederhana, tetapi justru dari situlah rasa aslinya tetap terasa tanpa tertutupi oleh bumbu yang berlebihan.
Kemudian ditambahkan kelapa gongseng (Gayo: keramil sele), untuk memberikan rasa gurih yang khas sekaligus menambah tekstur pada hidangan.
Air perasan jeruk juga dimasukkan untuk memberi sentuhan segar yang menyeimbangkan rasa gurih dan pahit.
Setelah semua bahan tercampur, barulah air perasan dari kulit kayu uwing dimasukkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/WIRDAYANI.jpg)