Selasa, 5 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Perang dan Damai - Bagian 4, Pertemuan Islamabad Jalan Menuju Perdamaian

Perdamaian tidak semata - mata lahir dari kesepakatan formal, melainkan dari keberanian politik untuk membuka ruang dialog ...

Tayang:
Editor: Subur Dani
Serambinews.com/HO
Yunidar ZA, Anggota Asosiasi Analis Kebijkan Indonesia (AAKI). 

Jalur perdagangan terganggu, harga energi berfluktuasi, dan ketidakpastian geopolitik semakin meningkat. 

Namun, yang paling menyayat hati adalah besarnya korban kemanusiaan yang jatuh dari kedua belah pihak, baik warga sipil, kaum rentan, lansia, wanita dan anak - anak tak berdosa. 

Mereka dampak langsung dari peperangan tersebut.

Sejarah kembali mengingatkan bahwa perang tidak pernah benar - benar dimenangkan oleh siapa pun. 

Ia hanya meninggalkan luka yang mendalam, terutama bagi mereka yang tidak pernah memilih untuk terlibat perang, perempuan, anak-anak, dan lansia menjadi kelompok paling rentan yang harus menanggung beban perang. 

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 3, Luka yang tak Terlihat, Duka yang tak Berkesudahan

Tempat tinggal, rumah - rumah hancur, kehidupan tercerabut, dan masa depan generasi muda terancam hilang dalam pusaran kekerasan.

Dalam eskalasi terbaru, operasi militer Israel di wilayah Lebanon menuai kecaman luas masyarakat dunia. 

Intensitas serangan yang meningkat dinilai semakin tidak terkendali dan berisiko memperluas konflik regional. 

Tragisnya, serangan tersebut juga berdampak pada pasukan penjaga perdamaian yang seharusnya berada di luar garis konflik.

Lembaga Perserikatan Bangsa – Bangsa sebagai pasukan penjaga perdamian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) yang telah bertugas sejak 1978 memiliki mandat untuk menjaga stabilitas di perbatasan Lebanon – Israel, memantau pelanggaran, serta melindungi warga sipil. 

Nasib Para Penjaga Perdamaian

Pasukan ini bukanlah aktor tempur, melainkan simbol netralitas internasional yang mengenakan helm biru sebagai identitas perdamaian. 

Saat ini, UNIFIL terdiri dari sekitar 7.500 personel dari hampir 50 negara, termasuk kontribusi signifikan dari Indonesia dengan sekitar 750 prajurit.

Celakanya, tragedi yang terjadi pada 29 Maret 2026, kemudian gugurnya tiga prajurit Indonesia yang tergabung dalam kontingen UNIFIL dalam insiden ledakan saat mengawal konvoi di wilayah Lebanon Selatan. 

Mereka pahlawan penjaga perdamaian yang gugur adalah Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. 

Baca juga: Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Misi UNIFIL di Lebanon, Istana Belasungkawa dan Minta Investigasi

Sebagaimana Informasi keterangan yang disampaikan oleh Kepala Pusat Penerangan TNI, Brigjen TNI  Aulia Dwi Nasrullah menyebutkan bahwa ledakan terjadi pada kendaraan yang mereka kawal dalam misi kemanusiaan tersebut.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved