KUPI BEUNGOH
Ketika Persia Berbicara dalam Bahasa Melayu: Warisan Intelektual Aceh - Bagian II
Namun manuskrip Aceh tidak lahir dari ruang kosong, Ia adalah hasil pertemuan berbagai tradisi keilmuan: Arab, India, dan Persia
Oleh: Tarmizi A Hamid*)
Jika pada tulisan Kupi Beungoh sebelumnya kita menelusuri jejak Persia dalam lanskap intelektual Islam Aceh, maka pada tulisan ini ada pertanyaan berikutnya adalah: di mana jejak itu paling nyata dapat ditemukan?
Jawabannya tidak hanya pada tokoh atau gagasan, tetapi pada sesuatu yang lebih halus, santun dan sering terabaikan malah kita lupakan, kita campakkan bahasa dan manuskrip.
Di sanalah Persia “berbicara”, bukan dengan bahasanya sendiri, tetapi melalui bahasa Melayu yang telah diislamkan, ditafsirkan, dan dihidupkan kembali oleh ulama-ulama terkenal Aceh terdahulu.
Baca juga: Jejak Persia dalam Intelektual Islam Aceh: Dari Tasawuf ke Manuskrip Jawi - Bagian I
Para ulama kita tersebut yang telah menggoreskan tinta yang dibuatkan dari bahan alami dan menggunakan purèh on joek.
Manuskrip: Ruang Pertemuan Peradaban
Pada masa Kesultanan Aceh Darussalam, manuskrip (naskah kuno) bukan sekadar catatan, melainkan media utama penyebaran ilmu pengetahuan yang isi kandungan di dalamnya tersimpan tafsir, tasawuf, hikayat, hingga ajaran etika yang membentuk cara berpikir masyarakat.
Namun manuskrip Aceh tidak lahir dari ruang kosong, Ia adalah hasil pertemuan berbagai tradisi keilmuan: Arab, India, dan yang sering luput disebut Persia.
Baca juga: Sosok Salman Al-Farisi: Strategi Jenius Persia di Balik Kemenangan Perang Khandaq
Pengaruh Persia ini tidak selalu hadir dalam bentuk teks asli berbahasa Persia. Justru sebaliknya, ia hadir dalam bentuk yang telah “berubah rupa”: diterjemahkan, disadur, dan disesuaikan ke dalam bahasa Melayu-Jawi.
Di sinilah letak keunikannya. Aceh tidak sekadar menerima, tetapi mengolah.
Baca juga: Nama Aceh Harum di Arena Islamic Arts Museum Kuala Lumpur, Cek Midi Salut pada Kerajaan Malaysia
Bahasa Melayu pada masa itu berfungsi sebagai lingua franca di kawasan Asia Tenggara. Namun di tangan ulama Aceh, bahasa ini mengalami transformasi menjadi bahasa intelektual Islam.
Dalam manuskrip-manuskrip Jawi (harah jawo) kita menemukan banyak istilah yang berasal dari Persia, seperti “syah”, “bandar”, “diwan”, dan “nakhoda”.
Kata-kata ini bukan sekadar pinjaman linguistik, tetapi penanda adanya jalur transmisi keilmuan yang lebih luas.
Baca juga: VIDEO - Teluk Persia Memanas: Kapal Induk Drone Iran Hadang Aktivitas Pengintai Udara AS
Lebih dari itu, struktur kalimat dan gaya penyampaian dalam teks-teks tersebut sering kali mencerminkan cara berpikir sufistik yang berkembang dalam tradisi Persia: simbolik, berlapis, dan penuh makna batin.
Dengan kata lain, Persia tidak hanya memengaruhi apa yang ditulis, tetapi juga bagaimana sesuatu ditulis dan dipahami.
Dari Hikayat ke Makna
Karya seperti Hikayat Aceh memperlihatkan bagaimana sejarah, mitologi, dan spiritualitas berpadu dalam satu narasi.
Raja tidak hanya digambarkan sebagai penguasa politik, tetapi juga sebagai figur yang memiliki dimensi kosmis.
Model seperti ini memiliki kemiripan dengan tradisi epik Persia seperti Shahnameh, di mana sejarah dan simbolisme berjalan beriringan.
Baca juga: Rindu Romantisme Aceh-Ottoman, Pengusaha Muda Jerman - Turki Temui Kolektor Manuskrip Aceh
Namun di Aceh, narasi ini tidak ditiru begitu saja. Ia disesuaikan dengan konteks lokal, dengan nilai-nilai masyarakat, dan dengan kebutuhan dakwah.
Hasilnya adalah bentuk sastra yang unik: hikayat Melayu yang bernapas Persia, tetapi berjiwa Aceh.
Pengaruh Persia paling terasa dalam penyebaran tasawuf melalui manuskrip.
Tokoh seperti Hamzah Fansuri memainkan peran penting dalam menerjemahkan konsep-konsep abstrak ke dalam bahasa yang dapat dipahami masyarakat.
Konsep seperti perjalanan spiritual, makrifat, dan kesatuan wujud tidak disampaikan dalam istilah filsafat yang rumit, melainkan melalui: syair, metafora, simbol sehari-hari.
Baca juga: Budayawan Aceh Cek Midi Gagal Hadiri Forum Internasional Manuskrip ICIM 2025 di Brunei Darussalam
Di sinilah kejeniusan intelektual itu tampak.
Gagasan besar yang berkembang dalam dunia Persia yang mungkin sulit diakses oleh masyarakat awam diterjemahkan menjadi pengalaman bathin yang dekat dan personal.
Bahasa Melayu menjadi jembatan antara dunia ide dan dunia manusia.
Penting untuk dipahami bahwa manuskrip Aceh bukan hasil akhir dari sebuah proses, melainkan bagian dari proses itu sendiri.
Baca juga: VIDEO - Detik-detik Fasilitas Minyak Inggris di Irak Dilalap Api, Serangan Drone Iran Hantam Erbil
Setiap penyalinan, setiap penambahan catatan, setiap perubahan kecil mencerminkan dinamika intelektual yang terus berjalan.
Dalam proses ini, pengaruh Persia tidak hadir sebagai sesuatu yang statis, tetapi sebagai arus yang terus bergerak, beradaptasi, dan bertransformasi.
Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran ilmu dalam Islam tidak pernah bersifat satu arah. Ia selalu melibatkan dialog, interpretasi, dan bahkan perdebatan.
Membaca Ulang Warisan
Hari ini, ketika kita membuka kembali manuskrip-manuskrip Jawi Aceh, kita tidak hanya membaca teks lama. Kita sedang membaca jejak pertemuan peradaban.
Kita melihat bagaimana sebuah gagasan dapat berpindah ribuan kilometer, melintasi bahasa dan budaya, lalu menemukan bentuk barunya di tempat yang jauh dari asalnya.
Baca juga: Silvermen Gentayangan di Aceh, Budayawan Cek Midi: Merusak Norma Islam dan Keacehan
Dan dalam proses itu, Aceh tidak kehilangan identitasnya. Justru sebaliknya, ia memperkaya dirinya.
Persia mungkin tidak lagi hadir secara fisik di Aceh. Namun suaranya masih dapat didengar dalam kata-kata, dalam syair, dalam manuskrip yang telah ditulis berabad-abad pada masa lalu.
Ia berbicara dalam bahasa Melayu, tetapi membawa kedalaman makna yang melampaui batas geografis.
Dan mungkin di situlah letak kekuatan sebenarnya dari tradisi intelektual Islam: bukan pada keseragaman, tetapi pada kemampuannya untuk berbicara dalam banyak bahasa, tanpa kehilangan makna.(*)
*) PENULIS adalah pemerhati sejarah dan budaya Aceh serta Pendiri Rumoh Manuskrip Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
Persia
Iran
Melayu
Aceh
bahasa Melayu
kupi beungoh
opini serambi
opini serambinews
opini pembaca
Meaningful
Manuskrip
| Dollar dan Dapur Rumah Tangga di Desa |
|
|---|
| Akademisi atau Buruh Pengetahuan Global: Ketika Kampus Mengejar Reputasi Tapi Abai Ruh Peradaban |
|
|---|
| Bukan Mafia Sitasi, Ini Jejaring Ilmu: Tanggapan untuk Teuku Muhammad Jamil |
|
|---|
| Nasehat Imam Al-Ghazali dan Cermin Kepemimpinan di Aceh |
|
|---|
| Ketika Tendik Cemburu pada Dosen: Akademik Tergadai dan Kebebasan Terancam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/CEK-MIDI-20260402.jpg)