Sabtu, 11 April 2026

KUPI BEUNGOH

Ketika Persia Berbicara dalam Bahasa Melayu: Warisan Intelektual Aceh - Bagian II

Namun manuskrip Aceh tidak lahir dari ruang kosong, Ia adalah hasil pertemuan berbagai tradisi keilmuan: Arab, India, dan Persia

Editor: Subur Dani
for serambinews
Tarmizi A Hamid atau Cek Midi adalah pemerhati sejarah dan budaya Aceh serta Pendiri Rumoh Manuskrip Aceh 

Oleh: Tarmizi A Hamid*)

Jika pada tulisan Kupi Beungoh  sebelumnya kita menelusuri jejak Persia dalam lanskap intelektual Islam Aceh, maka pada tulisan ini ada pertanyaan berikutnya adalah: di mana jejak itu paling nyata dapat ditemukan? 

Jawabannya tidak hanya pada tokoh atau gagasan, tetapi pada sesuatu yang lebih halus, santun dan sering terabaikan malah kita lupakan, kita campakkan bahasa dan manuskrip.

Di sanalah Persia “berbicara”, bukan dengan bahasanya sendiri, tetapi melalui bahasa Melayu yang telah diislamkan, ditafsirkan, dan dihidupkan kembali oleh ulama-ulama terkenal Aceh terdahulu. 

Baca juga: Jejak Persia dalam Intelektual Islam Aceh: Dari Tasawuf ke Manuskrip Jawi - Bagian I

Para ulama kita tersebut yang telah menggoreskan tinta yang dibuatkan dari bahan alami dan menggunakan purèh on joek.

Manuskrip: Ruang Pertemuan Peradaban

Pada masa Kesultanan Aceh Darussalam, manuskrip (naskah kuno) bukan sekadar catatan, melainkan media utama penyebaran ilmu pengetahuan yang isi kandungan di dalamnya tersimpan tafsir, tasawuf, hikayat, hingga ajaran etika yang membentuk cara berpikir masyarakat.

Namun manuskrip Aceh tidak lahir dari ruang kosong, Ia adalah hasil pertemuan berbagai tradisi keilmuan: Arab, India, dan yang sering luput disebut Persia.

Baca juga: Sosok Salman Al-Farisi: Strategi Jenius Persia di Balik Kemenangan Perang Khandaq

Pengaruh Persia ini tidak selalu hadir dalam bentuk teks asli berbahasa Persia. Justru sebaliknya, ia hadir dalam bentuk yang telah “berubah rupa”: diterjemahkan, disadur, dan disesuaikan ke dalam bahasa Melayu-Jawi.

Di sinilah letak keunikannya. Aceh tidak sekadar menerima, tetapi mengolah.

Baca juga: Nama Aceh Harum di Arena Islamic Arts Museum Kuala Lumpur, Cek Midi Salut pada Kerajaan Malaysia

Bahasa Melayu pada masa itu berfungsi sebagai lingua franca di kawasan Asia Tenggara. Namun di tangan ulama Aceh, bahasa ini mengalami transformasi menjadi bahasa intelektual Islam.

Dalam manuskrip-manuskrip Jawi (harah jawo) kita menemukan banyak istilah yang berasal dari Persia, seperti “syah”, “bandar”, “diwan”, dan “nakhoda”. 

Kata-kata ini bukan sekadar pinjaman linguistik, tetapi penanda adanya jalur transmisi keilmuan yang lebih luas.

Baca juga: VIDEO - Teluk Persia Memanas: Kapal Induk Drone Iran Hadang Aktivitas Pengintai Udara AS

Lebih dari itu, struktur kalimat dan gaya penyampaian dalam teks-teks tersebut sering kali mencerminkan cara berpikir sufistik yang berkembang dalam tradisi Persia: simbolik, berlapis, dan penuh makna batin.

Dengan kata lain, Persia tidak hanya memengaruhi apa yang ditulis, tetapi juga bagaimana sesuatu ditulis dan dipahami.

Dari Hikayat ke Makna

Karya seperti Hikayat Aceh memperlihatkan bagaimana sejarah, mitologi, dan spiritualitas berpadu dalam satu narasi. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved