Jurnalisme Warga
Ketika Manusia Mengagungkan AI, Terjadilah Pergeseran Nilai Agama dan Sosial
Sosok yang ia nikahi tersebut bukanlah seorang manusia. Namanya Klaus, karakter pria yang tercipta dari pesona karakter kecerdasan buatan (AI)
Dari sudut pandang agama, pernikahan bukan sekadar kontrak sosial, melainkan ikatan sakral yang melibatkan nilai spiritual, tanggung jawab, serta keberlanjutan generasi. Dalam Islam misalnya, pernikahan adalah bagian dari sunah yang bertujuan membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah. Ketika konsep ini jika direduksi menjadi hubungan antara manusia dan mesin, maka terjadilah distorsi besar terhadap makna ibadah itu sendiri.
QS. Ar-Rum ayat 21 mejelaskan tujuan pernikahan, yaitu untuk mendapatkan ketenangan jiwa (sakinah) dengan pasangan yang sejenis (manusia dengan manusia). Ayat tersebut berbunyi yang artinya, “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cendrung dan merasa tenteram kepadanya.”
Lebih jauh, fenomena “perkawinan dengan AI” berpotensi mengikis nilai-nilai kemanusiaan. Manusia dapat terjebak dalam ilusi kendali penuh atas pasangan yang tidak memiliki kehendak bebas. Ini berbahaya, karena dapat membentuk karakter egoistis dan tidak siap menghadapi realitas hubungan sosial yang kompleks. Dalam jangka panjang, hal ini bisa merusak tatanan keluarga, menurunkan angka interaksi sosial nyata, bahkan mengancam keberlanjutan demografi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi hadir untuk memudahkan hidup manusia.
Namun, ketika teknologi melampaui batas dan mulai menggantikan peran fundamental manusia, maka diperlukan refleksi serius. Apakah kita masih mengendalikan teknologi atau justru sedang dikendalikan oleh kenyamanan semu yang ditawarkannya?
Fenomena di Jepang itu seharusnya menjadi peringatan dini bagi masyarakat global, termasuk Indonesia. Kita tidak boleh terlena oleh kecanggihan tanpa mempertimbangkan implikasi moral dan sosialnya. Perlu ada upaya kolektif dari berbagai pihak, pemerintah, tokoh agama, akademisi, hingga keluarga untuk memperkuat literasi digital yang tidak hanya berbasis keterampilan, tetapi juga nilai.
Pendidikan agama dan karakter harus kembali menjadi fondasi utama dalam menghadapi era digital. Generasi muda perlu dibekali pemahaman bahwa teknologi hanyalah alat, bukan pengganti hubungan manusia yang hakiki.
Selain itu, regulasi terkait pengembangan dan penggunaan AI juga perlu mempertimbangkan aspek etika agar tidak membuka ruang bagi praktik-praktik yang merusak nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi seharusnya memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, bukan justru mengikisnya.
Jika manusia mulai mencari cinta dari mesin, maka yang perlu dipertanyakan bukan kecanggihan teknologinya, melainkan kondisi jiwa manusia itu sendiri.
Jangan sampai kita hidup di era kecerdasan buatan, tetapi kehilangan kebijaksanaan sebagai manusia.
Fenomena “perkawinan dengan AI” adalah cermin dari krisis yang lebih dalam: krisis makna, krisis relasi, dan krisis spiritual. Jika tidak disikapi dengan bijak, bukan tidak mungkin masa depan akan dipenuhi oleh individu-individu yang terhubung dengan mesin, tetapi terputus dari sesama manusia dan bahkan dari Tuhannya.
Harus ada pemahaman bahwa AI bukanlah ancaman jika digunakan dengan benar, tetapi dapat menjadi bumerang jika disalahgunakan.
Kunci utamanya terletak pada manusia sebagai pengguna. Apakah AI akan menjadi alat yang memuliakan kehidupan atau justru merusaknya, sangat bergantung pada kebijaksanaan kita dalam mengelolanya.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk menempatkan teknologi dalam koridor etika, moral, dan kemanusiaan, agar kemajuan yang kita capai tidak justru membawa kita pada kemunduran yang tak disadari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ZUBAIR-2025555.jpg)