KUPI BEUNGOH
Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia
Traffic light itu ibarat umur kita. Sebagian yang didesain sepaket dengan angka, dia bekerja menghitung mundur.
Suatu ketika, saya bersama anak dengan sepeda motor berhenti ketika melihat lampu merah mulai menyala pada satu persimpangan.
Tiba-tiba ada satu dua pengguna jalan lainnya yang memakai sepeda motor menerobos lampu merah.
Dengan refleks anak saya bertanya kenapa bapak/abang itu jalan terus, Yah? Mungkin mereka tidak bisa membedakan warna atau tidak bisa melihat warna, jawab saya singkat.
Baca juga: Lampu Traffic Light di Jalan Nasional Simpang Lueng Baro Nagan Sudah Lama Rusak, Ini Harapan Warga
Pada kesempatan lain, kondisi yang sama terjadi pada persimpangan lain. Ada beberapa pengendara motor dan mobil bahkan menorobos.
Lantas anak saya menimpali. “banyak ya Yah orang yang tidak bisa lihat warna di tempat kita”.
Saya tidak tahu menjawab apa. Selain itu, banyak pula para pengendara kerap membunyikan klakson tatkala lampu hijau keburu nyala. Inilah karakter kita.
Kesabaran adalah kunci di jalan raya. Ingin selamat, maka bijaklah dalam berkendaraan.
Sesuai dengan slogan yang kerap kita temui dibanyak tempat “bijak, selamat”. Kata ini singkat dan padat namun sarat makna dan mendalam.
Ada juga slogan lain yang sering kita jumpai “hidup anda singkat, tapi jangan buat lebih singkat”.
Ibarat Umur Kita
Traffic light itu ibarat umur kita. Sebagian yang didesain sepaket dengan angka, dia bekerja menghitung mundur.
Kita sangat mengharapkan angka itu cepat berlalu dan kita segera berangkat.
Bagi pengguna jalan yang agak jauh dari posisi tiang lampu maka akan memacu kendaraannya agar bisa segera mendekati lampu dan masuk dalam rombongan lampu hijau agar menghindari nyalanya lampu merah.
Baca juga: Cegah Kecelakaan dan Tanpa Perlindungan Asuransi Penumpang, Dishub Aceh akan Tindak Angkutan Ilegal
Bagi sebagian kita, berhadapan dengan lampu merah itu dianggap sebuah masalah karena paling tidak dia akan berhenti sejenak.
Apalagi yang keburu mengantar anak sekolah, mengejar presensi di kantor bagi ASN dan ragam alasan lainnya.
Padahal terkadang dengan berhenti sejenak kita diajuhkan dari musibah/kecelakaan. Ini harus menjadi renungan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Husaini-Yusuf.jpg)