Sabtu, 18 April 2026

Kupi Beungoh

Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi

Perjalanan ke Manado penuh cerita: dari isu global Iran hingga hangatnya toleransi di kota tepi laut. Kisah nyata yang membuka sudut pandang baru.

Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
Yunidar ZA, Anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI). 

Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan letak geografis, tetapi juga awal dari perjumpaan dengan sebuah kota yang dikenal luas sebagai simbol toleransi di Indonesia. Manado bukan hanya tujuan, melainkan ruang belajar tentang keberagaman yang hidup dalam keseharian masyarakatnya.

Saya juga pernah hadir sebagai peserta dalam konferensi internasional Pekan Kerukunan Internasional dan Konferensi VI Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) se-Indonesia yang juga dihadiri oleh beberapa Negara Sahabat diselenggarakan di Manado, Sulawesi Utara, pada November 2021.

Baca juga: Perang dan Damai : Bagian 1

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 2, Catatan Perjalanan ke Pulau Sabang

Yunidar Z.A (Analis Kebijkan – Instruktur Nasional Moderasi Beragama)
Yunidar Z.A (Analis Kebijkan – Instruktur Nasional Moderasi Beragama) (Dok SERAMBINEWS.COM/HO)

Manado Harmoni di Tepi Laut

Pesawat mendarat setelah berputar-putar selama 30 menit, kesempatan ini saya nikmati untuk melihat dengan jelas kota Manado dan sekitarnya, diuntungkan juga saya duduk di kursi 39 K, dekat jendela.

Awalnya saya sampai ke teman di kursi sebelah bahwa pesawat ini sepertinya telah berputar dua kali kemudian, pilot mengumumkan permohonan maaf karena tidak dapat mendarat sesuai jadwal karena padatnya penerbangan di Bandara Sam Ratulangi, Kota Manado, sekitar pukul 14.00 WITA lewat, akhirnya pesawat mendarat juga, lega rasanya. Perbedaan waktu dan suasana langsung terasa. 

Kota ini menyambut dengan udara yang lebih segar dan ritme kehidupan yang tampak lebih tenang. Dari bandara, saya melanjutkan perjalanan menuju hotel dan menginap di Swiss-Belhotel Manado, sebuah titik strategis untuk memulai aktivitas.

Agenda kerja dimulai dengan kunjungan ke beberapa kolega dan teman menikmati kuliner khas ikan segar Manado terutama ikan cakalang dan tuna, daging dan rahangnya  menjadi menu spesial, Interaksi yang terbangun dalam kunjungan ini keakraban dan cerita perdagangan masa lalu kota Manado dari Tiongkok Cina dan Arab, kemudian pada masa Kolonial kedatangan bangsa Eropa memperlihatkan dinamika masyarakat dan tumbuhnya rasa toleransi yang terus dipelihara. Manado menawarkan sesuatu yang lebih dalam, pengalaman sosial tentang toleransi.

Sore harinya, saya dijemput oleh sahabat lama Bang Mundhar, mobil putih dengan logo Trans Continent (TC) dulunya dikenalkan oleh Bapak Ismail Rasyid CEO, PT Trans Continent.

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 3, Luka yang tak Terlihat, Duka yang tak Berkesudahan

Perusahaan penyedia jasa logistik, freight forwarding, dan multimodal transport terkemuka yang didirikan pada tahun 2003 oleh Ismail Rasyid. Berfokus pada pengiriman, pengangkutan, penyimpanan barang (warehousing), dan customs clearance, perusahaan ini melayani berbagai industri.

Pada saat saya hadir pada Konferensi Kerukunan Umat Beragama di Kota Manado, waktu itu bahkan saya diajak ke Bitung Kawasan Berikat Gudang (TC). Mundhar, lulusan Politeknik Lhokseumawe, Aceh, terkenal “Kota Petrodolar”. Ia kini sebagai Koordinator PT TC Wilayah Timur, yang baru saja kembali dari Kantor TC Gorontalo.

Pertemuan berlangsung hangat di kawasan boulevard tepi Pantai sunbae yang dikenal sebagai pusat kuliner dan interaksi sosial. Di tempat ini, keberagaman tampak nyata, pengunjung dari berbagai daerah bahkan mancanegara hadir dalam satu tempat bibir Pantai yang sama.

Kami menikmati hidangan khas Manado, terutama olahan ikan tuna yang terkenal segar dan kaya rasa. Di sela-sela makan, saya berbincang dengan seorang pelayan yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Korea.

Ia bercerita bahwa kemampuannya diperoleh dari menonton drama Korea. Sebuah gambaran sederhana tentang bagaimana globalisasi budaya berinteraksi dengan kehidupan lokal.

Perjalanan berlanjut ke sebuah kedai kopi unik yang memanfaatkan mobil klasik (vw kodok) sebagai ruang usaha. Di sana, kami menikmati kopi tanpa gula, membiarkan aroma dan rasa asli kopi berbicara.”Tak ada kopi tak ada cerita”. Ungkapan maestro seniman Indonesia asal dataran tinggi gayo aceh, Fikar W Eda. 

Angin laut yang berhembus lembut, suara ombak yang tenang, serta keramaian pengunjung, suasana muda-mudi yang penuh keceriaan, warna warni cara berpakaian menciptakan atmosfer yang sulit dilupakan oleh pandangan mata para pria dan Wanita muda.

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 4, Pertemuan Islamabad Jalan Menuju Perdamaian

Malam semakin larut, namun percakapan justru semakin hidup. Kami berdiskusi tentang pekerjaan, pengalaman, hingga dinamika sosial di berbagai daerah.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved