Senin, 20 April 2026

KUPI BEUNGOH

Perang dan Damai – Bagian 10, Keberlangsungan Peradaban Keamanan Manusia, Stop War

korban jiwa dan penderitaan rakyat sipil akan terus bertambah, menjadi bukti nyata kegagalan diplomasi

Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Yunidar ZA adalah Analis Kebijakan 

Jika sikap saling curiga terus dipertahankan, dipelihara dan perang tetap menjadi pilihan utama, maka kerugian besar tidak dapat dihindari. Bagi negara-negara yang terlibat langsung melakukan agresi militer, seperti Amerika Serikat dan Israel, biaya perang akan terus meningkat, baik dalam bentuk anggaran militer maupun tekanan politik domestik dan internasional. 

Sementara itu, korban jiwa dan penderitaan rakyat sipil akan terus bertambah, menjadi bukti nyata kegagalan diplomasi. Dalam perspektif yang lebih luas, perang hanya memperdalam ketimpangan global dan memperlambat kemajuan peradaban manusia.

Di tengah situasi perang dangencatan senjata “jeda kemanusian” ini, rakyat Iran menunjukkan kesiagaan yang tinggi. Salah satu fenomena yang muncul adalah partisipasi masyarakat dalam bentuk relawan pertahanan yang dikenal sebagai janfada (جان فدا). 

Semangat ini mencerminkan kesiapan rakyat untuk mempertahankan tanah air mereka dari kemungkinan serangan darat. Hingga saat ini, jutaan warga Iran telah mendaftarkan diri sebagai bagian dari kesiapan nasional tersebut. Angka yang disebutkan mencapai sekitar 26 juta jiwa, sebuah mobilisasi sosial yang menunjukkan kuatnya rasa nasionalisme, ideologi dan solidaritas di tengah ancaman eksternal.

Namun, semangat pertahanan ini tidak semata-mata mencerminkan keinginan untuk berperang, melainkan juga bentuk respons terhadap ketidakpastian keamanan manusia. 

Di satu sisi, masyarakat ingin hidup damai dan kembali menjalani kehidupan normal. Di sisi lain, mereka merasa perlu bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Dualitas ini menjadi gambaran nyata bagaimana perang memaksa masyarakat hidup dalam paradoks antara harapan dan kecemasan.

Sebagai sebuah bangsa dengan sejarah panjang, Republik Islam Iran merupakan salah satu pusat peradaban dunia yang memiliki warisan budaya dan intelektual yang kaya. Kota - kota seperti Yazd, Isfahan, dan Shiraz menjadi simbol keberlanjutan peradaban yang dijaga dengan penuh kehati-hatian. 

Di beberapa wilayah tersebut, infrastruktur lama tetap dipertahankan dan tidak diganggu oleh pembangunan modern yang berlebihan. Hal ini menunjukkan bahwa peradaban bukan hanya tentang kemajuan teknologi, namun juga tentang menjaga warisan sejarah dan identitas budaya.

Memulihkan Iran pascakonflik menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditunda. Upaya rekonstruksi tidak hanya mencakup pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan sosial dan psikologis masyarakat. 

Dalam konteks global, pemulihan ini memiliki makna yang lebih luas, yaitu membangun kembali masa depan peradaban umat manusia yang tercerahkan,  lebih beradab, berbasis ilmu pengetahuan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Perdamaian menjadi fondasi utama bagi terciptanya kemajuan tersebut.

Semangat rakyat Iran dalam memperjuangkan perdamaian juga tidak dapat dilepaskan dari pengaruh pemikiran tokoh intelektual Islam, seperti Ali Syariati. Islam sebagai agama ideologi pembebasan dan revolusioner, yang memadukan ajaran Tauhid dengan sosiologi modern untuk melawan penindasan, kemandirian ummat sebagai intektual tercerahkan

Baca juga: VIDEO - Iran Tembaki 2 Kapal Super Tanker Sekutu AS, Blokade AS Bikin Khamenei Meradang

Pemikirannya tentang keberanian, kesadaran, dan transendensi menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk tetap teguh dalam menghadapi situasi sulit. Iran kini dalam “gencatan senjata” setiap malam masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial dan pawai perdamaian digelar sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintahan, stabilitas nasional dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Gerakan ini mencerminkan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya terletak pada militernya. Tapi juga pada kesadaran kolektif masyarakatnya.

Selain itu, dukungan terhadap pemerintah yang berorientasi pada perdamaian dan pembangunan manusia menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas. 

Kesederhanaan para pemimpin dan komitmen mereka terhadap kesejahteraan rakyat menjadi modal sosial yang memperkuat kepercayaan publik. Dalam situasi konflik, kepemimpinan yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan menjadi kunci untuk mencegah eskalasi yang lebih besar.

Pada akhirnya, keberlangsungan peradaban manusia bergantung pada masyarakat  internasional, jaringan perdamaian yang terus menerus berkampanye, mendorong terwujudnya perdamian untuk menghentikan perang dan para pihak yang berseteru memilih kembali jalan damai, diplomasi sebagai penyelesaian konflik kekerasan yang bermartabat. 

Gencatan senjata harus diperpanjang

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved