KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai – Bagian 10, Keberlangsungan Peradaban Keamanan Manusia, Stop War
korban jiwa dan penderitaan rakyat sipil akan terus bertambah, menjadi bukti nyata kegagalan diplomasi
Oleh: Yunidar Z.A*)
Buku Michel Foucault kegilaan dan peradaban yang diterjemahkan dari Madnesss and Civilization, A History of Insanity in Age of Reason by Michel Foucault, Translate from the French by Richard Howarsd Vitage Books Edition, November 1988.
Penerjemah oleh Yudi Santoso, Yogyakarta 2022. Saya mecoba membaca buku ini namun, tidak memahami secara utuh, sehingga memaksa untuk menyamakan tafsir dengan yang google sajikan “Pesan utama Michel Foucault dalam Kegilaan dan Peradaban (1961) adalah bahwa "kegilaan" bukanlah fakta medis objektif, melainkan konstruksi sosial yang diciptakan peradaban Barat untuk mendefinisikan dirinya melalui pengucilan.
Foucault menelusuri bagaimana sejarah kegilaan bergeser dari pengecualian fisik (diasingkan) ke pengurungan, di mana masyarakat menindas mereka yang dianggap tidak rasional demi mengontrol ketertiban sosial.
Nah, apakah ini yang sedang dilakukan kekuasan agresi militer Amerika Serikat bersama sekutunya zionis Israel terhadap Iran atau yang zionis Israel praktekkan di Palestina ? Orang barat kini mungkin sudah mencapai puncak hidup yang lebih baik daripada penderitaan masa lalu dalam perang, penyakit dan ketidak pastian hidup.
Boleh jadi perang juga suatu kegilaan dan penindasan yang dilakukan oleh yang berkuasa terhadap yang lemah untuk menindas, sepanjang sejarah manusia telah membuktikan tidak pernah menjadi jalan keluar yang sejati bagi peradaban manusia.
Kegilaan hanya menghadirkan kehancuran yang berulang, meninggalkan luka sosial, ekonomi, dan kemanusiaan yang sulit dipulihkan dalam waktu singkat. Dalam konteks agresi militer Amerika Serikat, Israel terhadap Iran, kehancuran peradaban terlihat nyata.
Pada sisi lain juga ada jaringan perdamain masyarakat internasional yang terus mendorong agar perang segera dihentikan dan para pihak yang terlibat dalam pertikaian segera kembali ke meja diplomasi. Seruan global ini bukan sekadar retorika moral.
Tapi, kebutuhan nyata demi menjaga keberlangsungan peradaban dunia. Ketika perang terus dipertahankan karena “jualan saham persenjataan terus naik”, yang dipertaruhkan bukan hanya kedaulatan negara, melainkan masa depan species manusia itu sendiri.
Dorongan menuju perdamaian semakin kuat seiring meningkatnya kesadaran global bahwa konflik bersenjata modern memiliki dampak yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Perang tidak hanya menghancurkan infrastruktur fisik, ekologi, lingkungan.
Tapi juga merusak tatanan sosial dan psikologis masyarakat. Oleh karena itu, gencatan senjata menjadi langkah awal yang sangat penting untuk mengembalikan stabilitas. Dalam situasi terkini, perpanjangan gencatan senjata menjadi kebutuhan mendesak demi menjaga harkat dan martabat kemanusiaan serta menjamin keamanan manusia (human security).
Baca juga: Trump Serang NATO: Disebut Tak Berguna Saat Perang Iran Hampir Usai, Ketegangan Sekutu Memanas
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa ketika gencatan senjata diberlakukan, aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan hingga sekitar 90 persen. Di Teheran, kehidupan perlahan pulih, kemacetan kembali terjadi sebagai tanda aktivitas ekonomi bergerak, meskipun sektor pendidikan masih beradaptasi.
Sekolah dan universitas sebagian besar masih menjalankan pembelajaran secara daring, terutama di kampus-kampus yang terdampak langsung oleh serangan. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan pascakonflik membutuhkan waktu, memba ngun Kembali sekaligus menegaskan pentingnya stabilitas jangka panjang.
Namun demikian, harapan terhadap perdamaian tetap dibayangi rasa curiga. Masyarakat internasional berharap agar Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali ke meja perundingan dapat memperkuat rasa saling percaya dan menurunkan tensi agresi militer.
Tanpa adanya kepercayaan, setiap gencatan senjata akan selalu rapuh dan berpotensi dilanggar sewaktu-waktu. Di sisi lain, masyarakat sipil tetap berada dalam kondisi siaga, menyadari bahwa konflik dapat kembali pecah kapan saja. Ketidakpastian ini menciptakan tekanan psikologis yang tidak kalah berat dibandingkan dampak fisik perang itu sendiri.
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-ZA-adalah-Analis-Kebijakan_20260419.jpg)