KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai – Bagian 10, Keberlangsungan Peradaban Keamanan Manusia, Stop War
korban jiwa dan penderitaan rakyat sipil akan terus bertambah, menjadi bukti nyata kegagalan diplomasi
Dunia akan mengusangkan perang dan konflik kekerasan. Kini masyarakan dunia membutuhkan dialog antar peradaban, lebih intensif dialog, kerja sama, toleransi dan saling pengertian, mengkampanyekan perdamaian dan mendorong terus upaya baik diplomasi yang inklusif dan berkelanjutan, memastikan bahwa setiap pihak memiliki ruang transformasi dari perang menuju perdamaian dengan mengubah sedikit, sikap, perilaku dan tindakan dalam menyampaikan kepentingannya tanpa harus menggunakan kekerasan, perang.
Perdamaian bukanlah sesuatu yang datang dengan ujug-ujug sendirinya, melainkan hasil dari usaha bersama masyarakat dunia yang konsisten. Gencatan senjata harus diperpanjang, dialog juga harus diperkuat, dengan membangun kembali kepercayaan. Tanpa langkah-langkah tersebut, perang hanya akan menjadi siklus tanpa akhir “kegilaan” yang akan menghancurkan peradaban, lingkungan hidup, ekologi, kemanusiaan masa depan generasi mendatang.
Stop war terus dikampanyekan oleh jaringan perdamaian bukan sekadar slogan, namun sebuah panggilan moral bagi seluruh umat manusia. Jika peradaban ingin tetap bertahan dan berkembang, maka tidak ada pilihan lain selain mengakhiri perang dan membangun dunia yang lebih damai, adil, dan berperikemanusiaan sesuai dengan falasafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
*) PENULIS Yunidar ZA adalah Analis Kebijakan berdomisili di Jakarta.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Interprofessional Education: Nyata atau Hanya Teori Semata? |
|
|---|
| Pentingnya Strategi Pembangunan yang Menempatkan Tata Kelola sebagai Prioritas Utama |
|
|---|
| Jangan Biarkan Emosi Mengalahkan Logika dalam Pengelolaan Gas Andaman |
|
|---|
| Dayah dan Tantangan Pembinaan Karakter di Era Digital |
|
|---|
| Mengapa Petani Aceh Tetap Miskin? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-ZA-adalah-Analis-Kebijakan_20260419.jpg)