Senin, 20 April 2026

KUPI BEUNGOH

Perang dan Damai – Bagian 10, Keberlangsungan Peradaban Keamanan Manusia, Stop War

korban jiwa dan penderitaan rakyat sipil akan terus bertambah, menjadi bukti nyata kegagalan diplomasi

Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Yunidar ZA adalah Analis Kebijakan 

Dunia akan mengusangkan perang dan konflik kekerasan. Kini masyarakan dunia membutuhkan dialog antar peradaban, lebih intensif dialog, kerja sama, toleransi dan saling pengertian, mengkampanyekan perdamaian dan mendorong terus upaya baik diplomasi yang inklusif dan berkelanjutan, memastikan bahwa setiap pihak memiliki ruang transformasi dari perang menuju perdamaian dengan mengubah sedikit, sikap, perilaku dan tindakan dalam  menyampaikan kepentingannya tanpa harus menggunakan kekerasan, perang.

Perdamaian bukanlah sesuatu yang datang dengan ujug-ujug  sendirinya, melainkan hasil dari usaha bersama masyarakat dunia yang konsisten. Gencatan senjata harus diperpanjang, dialog juga harus diperkuat, dengan membangun kembali kepercayaan. Tanpa langkah-langkah tersebut, perang hanya akan menjadi siklus tanpa akhir “kegilaan” yang akan menghancurkan peradaban, lingkungan hidup, ekologi, kemanusiaan masa depan generasi mendatang.

Stop war terus dikampanyekan oleh jaringan perdamaian bukan sekadar slogan, namun sebuah panggilan moral bagi seluruh umat manusia. Jika peradaban ingin tetap bertahan dan berkembang, maka tidak ada pilihan lain selain mengakhiri perang dan membangun dunia yang lebih damai, adil, dan berperikemanusiaan sesuai dengan falasafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. 

*) PENULIS Yunidar ZA adalah Analis Kebijakan berdomisili di Jakarta.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

 

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved