Kupi Beungoh
Pak Harun, China, dan ‘Penguasa Baru’ Dunia
Jika kita melihat kembali data pada pertengahan 1990-an pada saat Pak Harun memprediksi China akan mengusai dunia.
Dan dalam babak inilah China tampil sebagai pemain paling dominan.
China hari ini menguasai lebih dari 80 persen produksi panel surya dunia, memimpin kapasitas energi angin global, dan mengontrol rantai pasok mineral-mineral kritis seperti rare earth, bahan baku yang tak tergantikan dalam baterai, kendaraan listrik, hingga perangkat teknologi mutakhir.
Energi untuk AI
Yang membuat posisi China semakin strategis adalah kenyataan bahwa energi kini bukan hanya bahan bakar industry, ia adalah bahan bakar kecerdasan buatan. Pusat data (data center) yang menjalankan model-model AI raksasa membutuhkan konsumsi listrik yang luar biasa besar.
Diperkirakan, kebutuhan energi global untuk AI akan melonjak berlipat ganda dalam satu dekade ke depan. Di sinilah keunggulan China menjadi semakin tak terbantahkan dengan dominasi energi terbarukan yang murah dan berkelanjutan yang menjadi tulang punggung infrastruktur teknologi,
China memiliki fondasi energi yang kokoh untuk memacu pengembangan AI secara massif, jauh melampaui apa yang bisa dilakukan negara-negara lain yang masih bergantung pada energi fosil yang mahal dan terbatas.
Jika Inggris menguasai dunia karena batu bara, dan Amerika menang karena minyak, maka pertarungan abad ini akan dimenangkan oleh siapa yang menguasai energi terbarukan sekaligus kecerdasan buatan.
Dan China, tampaknya, sedang mempersiapkan diri untuk memenangkan keduanya sekaligus.
China Berlari Menuju Adidaya Teknologi
Jika kita melihat kembali data pada pertengahan 1990-an pada saat Pak Harun memprediksi China akan mengusai dunia, China bukanlah negara yang kuat secara ekonomi.
Pendapatan per kapita China saat itu hanya sekitar USD 377, bahkan lebih rendah dari Indonesia yang mencapai sekitar USD 834.
Dengan kata lain, rata-rata orang Indonesia kala itu dua kali lebih sejahtera dari rata-rata warga China. Kini pendapatan per kapita China telah melonjak menjadi sekitar USD 13.300, hampir 35 kali lipat dari angka di era 1990-an, jauh meninggalkan Indonesia yang berada di kisaran USD 4.900.
China hari ini bukan hanya tumbuh sebagai kekuatan ekonomi,negara ini sedang berlari kencang menuju posisi adidaya teknologi global, khususnya dalam bidang kecerdasan buatan.
Pemerintah China telah menargetkan negaranya menjadi pemimpin dunia di bidang AI pada tahun 2030, dan langkah-langkah nyata untuk itu sudah terlihat di mana-mana.
Saat ini, lebih dari 4.500 perusahaan di China aktif mengembangkan dan memasarkan produk berbasis AI.
Dana investasi besar di sektor ini, memunculkan persaingan domestik yang ketat sekaligus mendorong inovasi secara eksponensial.
Kemunculan DeepSeek pada awal 2025 adalah contoh paling nyata dari lompatan ini. Model AI asal China itu berhasil menandingi performa model-model terbaik Amerika dengan biaya pelatihan yang jauh lebih rendah, dan langsung mengguncang pasar saham AS karena mempertanyakan asumsi bahwa dominasi AI hanya bisa dicapai dengan investasi infrastruktur senilai ratusan miliar dolar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Mailizar-SPd-MPd.jpg)