KUPI BEUNGOH
Dedy Tabrani di Mata Aktivis HMI: Polisi Masa Depan yang Menjaga dengan Ilmu dan Iman
Namun, persepsi itu perlahan berubah ketika saya mengenal, meski dari kejauhan, figur Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani.
Oleh: Abdul Razak, S.TP*)
Dalam ingatan kolektif saya sebagai seorang aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sosok polisi kerap dipersepsikan secara berjarak—sebagai representasi negara yang hadir dengan kewenangan, tetapi tidak selalu dengan kehangatan.
Namun, persepsi itu perlahan berubah ketika saya mengenal, meski dari kejauhan, figur Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani.
Ia bukan sekadar aparat penegak hukum. Ia adalah simbol kemungkinan baru: polisi masa depan yang menjaga bukan hanya dengan kekuatan, tetapi dengan ilmu pengetahuan, keteladanan moral, dan pendekatan kemanusiaan.
Saya harus jujur sejak awal—saya bukan orang yang dekat secara personal dengannya. Bahkan, besar kemungkinan beliau tidak mengenal saya.
Baca juga: Dedy Tabrani, Putra Aceh yang Kini Pimpin BNNP Aceh, Pernah Jadi Sorotan Saat Bom Sarinah
Namun, dalam tradisi intelektual HMI, menilai seseorang tidak harus melalui kedekatan, melainkan melalui gagasan, rekam jejak, dan dampaknya bagi masyarakat.
Figur yang Tepat
Dan dari semua itu, Dedy Tabrani hadir sebagai figur yang layak mendapat dukungan moral.
Hari ini, ia berdiri di garda terdepan dalam perang melawan narkoba. Sebuah medan tempur yang tidak kalah kompleks dibandingkan dengan operasi militer atau penindakan terorisme.
Aceh, tanah yang kita cintai, sejak lama berada dalam bayang-bayang sebagai jalur masuk narkoba internasional.
Baca juga: Kombes Dedy Tabrani Dilantik Jadi Kepala BNNP Aceh, Pernah Jadi Kapolsek Menteng
Bahkan stigma sebagai “daerah ganja” masih melekat kuat, menjadi luka sosial yang belum sepenuhnya sembuh.
Dalam konteks inilah, kehadiran Dedy bukan sekadar sebagai aparat, tetapi sebagai pejuang peradaban.
Melawan narkoba di Aceh bukan hanya soal penindakan hukum.
Ia adalah perang nilai, perang budaya, dan perang masa depan generasi.
Di titik ini, pendekatan Dedy menjadi menarik sekaligus relevan. Ia tidak hanya mengandalkan instrumen hukum, tetapi juga membangun basis perlawanan dari akar masyarakat.
Agama Sebagai Pondasi
Salah satu inisiatifnya yang patut diapresiasi adalah pendirian balai pengajian sebagai medium perlawanan terhadap narkoba.
Konsep ini sederhana, tetapi dalam. Agama ditempatkan sebagai pondasi utama dalam membangun kesadaran kolektif.
kupi beungoh
Dedy Tabrani
Kepala BNNP Aceh
polisi
narkoba
ganja aceh
opini pembaca
opini serambinews
HMI
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat, Dari Masjid Gerakan Perubahan Dimulai - Bagian IV |
|
|---|
| Kesaksian dari Muraya: Ketika Solidaritas Fiskal Lampaui Batas Provinsi - Cerita Mendagri di APEKSI |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 11, Pertemuan Islamabad Jilid Dua, Menuju Perdamian |
|
|---|
| 821 Tahun Banda Aceh : Menghidupkan Kembali Semangat Kota Tamaddun Kekinian |
|
|---|
| Ilusi Kesejahteraan dalam Angka Desil |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ABDUL-RAZAK-20260421.jpg)