KUPI BEUNGOH
Stigma Gembel, Mengapa Jalan Kaki di Banda Aceh Dipandang Sebelah Mata?
stigma negatif terhadap pejalan kaki dapat diatasi dan Banda Aceh dapat menjadi kota yang lebih sehat, nyaman, dan berkelanjutan
Banyak kota telah berhasil menciptakan lingkungan yang ramah pejalan kaki, dengan trotoar yang lebar dan nyaman, jalur sepeda yang aman, serta ruang terbuka hijau yang menarik.
Hal ini menunjukkan bahwa perubahan ke arah yang lebih baik sangat mungkin dilakukan. Persepsi negatif terhadap pejalan kaki seringkali tercermin dalam bahasa dan istilah yang digunakan untuk merendahkan mereka.
Istilah "gembel" atau sebutan lain yang bernada menghina kerap kali dilontarkan kepada orang yang berjalan kaki, seolah-olah mereka adalah orang miskin, tidak mampu, atau tidak berpendidikan.
Stereotip ini sangat merugikan dan berdampak negatif pada kepercayaan diri dan harga diri pejalan kaki.
Banyak kisah nyata yang menceritakan pengalaman diskriminasi yang dialami pejalan kaki di Banda Aceh.
Mulai dari tatapan sinis, komentar merendahkan, hingga tindakan yang membahayakan keselamatan mereka di jalan raya.
Stigma ini tidak hanya menyakitkan, tetapi juga menghambat upaya pemerintah dalam mempromosikan transportasi berkelanjutan dan gaya hidup sehat.
Baca juga: 821 Tahun Banda Aceh : Menghidupkan Kembali Semangat Kota Tamaddun Kekinian
Persepsi negatif ini memperkuat lingkaran setan, di mana semakin sedikit orang yang berjalan kaki, semakin kuat pula stigma yang melekat pada mereka.
Stigma terhadap pejalan kaki memiliki konsekuensi yang luas dan mendalam bagi masyarakat Banda Aceh.
Secara sosial, stigma ini menyebabkan penurunan aktivitas fisik dan peningkatan risiko penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.
Kurangnya interaksi sosial dan rasa kebersamaan di ruang publik juga menjadi dampak negatif dari budaya kendaraan pribadi yang mendominasi.
Baca juga: 821 Tahun Banda Aceh: Mau ke Mana Kota Kita?
Dari segi lingkungan, penggunaan kendaraan pribadi yang berlebihan menyebabkan peningkatan polusi udara dan kemacetan lalu lintas.
Hal ini tidak hanya merusak kualitas udara, tetapi juga menghambat mobilitas dan produktivitas masyarakat.
Ketidakadilan sosial juga semakin terasa, karena mereka yang tidak memiliki akses terhadap kendaraan pribadi menjadi semakin terpinggirkan dan kesulitan untuk mengakses berbagai layanan publik.
Secara ekonomi, stigma ini berpotensi merugikan pedagang kecil dan bisnis lokal yang bergantung pada pejalan kaki.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Alda-Livia-Saldani-Barus_mahasiswa-UIN-Ar-Raniry_20260419.jpg)