Kamis, 30 April 2026

Jurnalisme Warga

Kesiapsiagaan Bencana di Sekolah Sukma Bangsa

tsunami yang berfungsi saat itu. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat sebanyak 173.741 korban jiwa dan ratusan ribu lainnya

Tayang:
Editor: mufti
IST
IKHWANI, S.Pd., Gr.,  Guru SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, melaporkan dari Kota Lhokseumawe. 

Simulasi mitigasi bencana menjadi bagian yang paling dinantikan. Suara sirine menggema di dalam ruangan, menandakan dimulainya simulasi gempa bumi.

Dalam hitungan detik, suasana berubah. Siswa yang sebelumnya duduk tenang langsung merespons sesuai arahan.

Mereka merunduk, berlindung di bawah meja, dan berpegangan, sebuah prinsip sederhana yang dikenal

dengan ‘drop, cover, hold on’. Beberapa siswa terlihat melindungi kepala dengan tangan, tas, dan beberapa

benda lain yang tersedia. Pemateri menekankan pentingnya menjauhi jendela kaca, rak buku, lemari, serta

benda gantung lainnya yang berpotensi membahayakan. Tidak ada siswa yang panik atau berlari keluar ruangan sebelum instruksi diberikan.

Siswa kemudian diarahkan untuk melakukan evakuasi secara tertib setelah guncangan benar-benar terjadi dengan dibunyikannya sirine kedua. Mereka berjalan cepat menuju titik kumpul dengan mengikuti jalur evakuasi yang telah ditentukan.

Setelah seluruh siswa berkumpul di titik kumpul, mereka diberikan pemahaman tentang langkah-langkah

pascabencana. Mereka diminta untuk menjauhi bangunan, pohon, tiang, serta benda-benda lain yang berpotensi roboh atau jatuh.

Kemudian, siswa diminta untuk segera memeriksa kondisi diri sendiri dan

orang di sekitarnya.

Selain itu, kewaspadaan terhadap gempa susulan juga menjadi perhatian utama. Siswa diingatkan untuk tetap berada di area terbuka dan tidak kembali ke dalam bangunan sebelum dinyatakan aman. Langkah-langkah ini penting untuk memastikan keselamatan bersama sekaligus melatih siswa agar bersikap tanggap, tenang, dan bertanggung jawab.

Nilai kemanusiaan

Dalam situasi bencana, tidak semua korban dapat ditangani secara bersamaan. Oleh karena itu, diperlukan sistem untuk mengelompokkan korban berdasarkan tingkat keparahan, guna menentukan prioritas

penanganan.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved