Jurnalisme Warga
Kesiapsiagaan Bencana di Sekolah Sukma Bangsa
tsunami yang berfungsi saat itu. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat sebanyak 173.741 korban jiwa dan ratusan ribu lainnya
Secara umum, triase membagi korban ke dalam beberapa kategori, yaitu korban dengan
kondisi kritis, korban dengan cedera sedang, korban dengan cedera ringan, serta korban yang sudah tidak dapat diselematkan.
Pengelompokan ini membantu tenaga medis dan sukarelawan untuk memaksimalkan
penyelamatan korban dalam waktu terbatas.
Bagi siswa, konsep ini terdengar baru, tetapi sangat penting. Mereka belajar bahwa dalam kondisi darurat, keputusan harus diambil dengan cepat dan tepat. Tidak hanya soal menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga bagaimana membantu orang lain.
Pembelajaran ini secara tidak langsung menanamkan nilai empati, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Banyak orang yang sebelumnya tidak saling kenal dapat saling tolong-menolong dalam kondisi sulit.
Nilai gotong royong dan kebersamaan muncul secara alami sebagai bentuk respons terhadap krisis yang dihadapi
bersama.
Begitu pula dalam dunia pendidikan, para ahli menekankan bahwa nilai kemanusiaan perlu
ditanamkan sejak dini melalui pengalaman belajar yang nyata.
Hari Kesiapsiagaan Bencana
Kegiatan ini juga sejalan dengan semangat Hari Kesiapsiagaan Bencana yang diperingati setiap tahun di
Indonesia. Momentum ini menjadi pengingat bahwa bencana tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya dapat
diminimalkan melalui kesiapsiagaan.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan kesadaran tersebut sejak dini.
Mengajarkan mitigasi bukan berarti menanamkan rasa takut, melainkan untuk membangun kesiapan. Bagi masyarakat Aceh, kesiapsiagaan bukan sekadar pengetahuan, tetapi bagian dari ingatan kolektif yang lahir dari
pengalaman pahit peristiwa gempa dan tsunami 2004.
Dari pengalaman itu lahir kesadaran bahwa generasi
mendatang harus lebih siap. Kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dan sekolah adalah tempat terbaik untuk menanamkan sejak dini.
Bukan hanya sekadar pembelajaran satu hari, kegiatan ini juga menjadi bagian dari proses panjang dalam membangun generasi tangguh terhadap bencana. Siswa akan tumbuh menjadi individu yang memiliki kesadaran lingkungan, kepekaan sosial, serta memiliki kemampuan mengambil keputusan dalam situasi darurat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/IKHWANI-S-Pd.jpg)