Sabtu, 2 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Catatan Kritis Pendidikan Indonesia pada Hardiknas 2026

Pendidikan bukan proyek lima tahunan, melainkan investasi peradaban yang dampaknya baru dapat dirasakan dalam jangka panjang lintas generasi

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Dr. Iswadi, M.Pd, Dosen Universitas Esa Unggul Jakarta 

Di sisi lain, ketimpangan kesejahteraan guru masih menjadi persoalan serius, terutama bagi guru honorer. Tidak sedikit dari mereka yang masih menerima penghasilan jauh di bawah standar kelayakan hidup.

 Situasi ini tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga pada martabat profesi guru sebagai ujung tombak pendidikan bangsa.

Lebih jauh, sistem pendidikan Indonesia juga menghadapi krisis makna. Saat ini, pendidikan cenderung terlalu berorientasi pada angka, nilai ujian, dan peringkat. 

Akibatnya, proses pembelajaran sering kali kehilangan esensi utamanya, yaitu membentuk manusia yang utuh.

Tekanan terhadap capaian akademik membuat siswa lebih fokus pada hasil akhir dibandingkan proses berpikir. Ruang untuk kreativitas, nalar kritis, dan kemampuan reflektif menjadi semakin sempit. 

Pendidikan akhirnya berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi kurang siap menghadapi kompleksitas kehidupan sosial.

Padahal, pendidikan seharusnya tidak hanya mencetak tenaga kerja, tetapi juga membentuk manusia yang mampu berpikir merdeka, berempati, serta berkontribusi positif bagi masyarakat.

 Inilah esensi pendidikan yang sering kali terpinggirkan oleh sistem yang terlalu administratif dan berorientasi pada angka.

Di tengah perkembangan zaman, digitalisasi pendidikan juga membawa dampak yang kompleks. Di satu sisi, teknologi membuka akses pembelajaran yang lebih luas dan fleksibel. 

Baca juga: Mendesain Ulang Arah Pendidikan Kita

Namun di sisi lain, ketergantungan terhadap perangkat digital juga menimbulkan tantangan baru.

Kesenjangan digital masih menjadi masalah nyata. Tidak semua siswa memiliki akses yang sama terhadap perangkat dan jaringan internet yang memadai. 

Selain itu, pembelajaran yang terlalu bergantung pada teknologi juga berpotensi mengurangi interaksi langsung antara guru dan siswa, yang sejatinya merupakan elemen penting dalam pendidikan karakter.

Persoalan lain yang tidak boleh diabaikan adalah rendahnya budaya literasi di kalangan pelajar. Meskipun berbagai program literasi telah digalakkan, minat baca masih tergolong rendah. 

Dominasi media sosial dan budaya konsumsi informasi yang serba instan membuat proses berpikir mendalam semakin terpinggirkan.

Informasi kini lebih sering dikonsumsi secara cepat tanpa refleksi yang cukup. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka transformasi pendidikan hanya akan berhenti pada tataran slogan tanpa substansi yang nyata.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved