KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai - Bagian 15, Korporatokrasi Global, Selat Hormuz dan Perdamaian
Dari perspektif ini, perang antara Amerika Serikat dan Iran tidak lagi tampak sebagai konflik biasa,
Dalam kerangka ini, pinjaman luar negeri bukan sekadar bantuan, melainkan pintu masuk bagi kontrol yang lebih dalam.
Utang, Tekanan, dan Militer
Jika suatu negara tunduk, maka ia akan “dibina” melalui utang dan proyek-proyek besar yang menguntungkan korporasi global.
Namun jika menolak, jalurnya berubah, dari diplomasi menjadi tekanan, dari tekanan menjadi kekacauan, dan dari kekacauan menuju intervensi militer. Pola ini terlihat jelas dalam sejarah.
Baca juga: Perang dan Damai – Bagian 13, Keberlanjutan Perdamaian dan Membuka Ruang Peradaban Dunia
Kasus Saddam Hussein di Irak adalah contoh nyata. Awalnya, ia didekati dengan tawaran kerja sama dan pinjaman.
Ketika itu gagal, upaya pembunuhan dilakukan. Saat kedua tahap tersebut tidak berhasil, jalan terakhir ditempuh lalu invasi militer dengan dalih kepemilikan senjata pemusnah massal (Weapons of Mass Destruction).
Narasi ini dikemas sedemikian rupa untuk mendapatkan legitimasi internasional. Namun pada akhirnya, motif utama yang tersingkap adalah penguasaan sumber daya minyak dan wilayah strategis di sekitar Sungai Tigris dan Efrat.
Hal serupa juga dialami Mohammad Mossadegh. Ketika ia berani menasionalisasi industri minyak Iran, ia langsung berhadapan dengan kepentingan korporatokrasi global.
Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 12, Perpanjangan Gencatan Senjata, Persiapan Perdamaian
Tidak butuh waktu lama bagi Central Intelligence Agency (CIA) untuk turun tangan. Kudeta pun terjadi, Mossadegh digulingkan, dan digantikan oleh rezim yang lebih sejalan dengan kepentingan Barat.
Proses ini cepat, efisien, dan dalam logika kekuasaan, murah.
Namun Iran hari ini bukan Iran pada era Mossadegh.
Kepemimpinan Ali Khamenei berada dalam konteks geopolitik yang jauh lebih kompleks. Intervensi langsung tidak lagi semudah dulu.
Bahkan setelah tekanan besar, sanksi ekonomi, hingga agresi serangan militer, Iran tetap berdiri tegak. Tidak hanya bertahan, tetapi juga menunjukkan perlawanan yang membuat Amerika Serikat dan sekutunya harus berpikir ulang.
Baca juga: VIDEO Pengelola Perpustakaan Dibekali Automasi Berbasis Inlislite
Pertanyaannya kemudian, mengapa perang terus terjadi? Jawabannya sederhana, perang bukanlah tujuan akhir, melainkan alat.
Tujuan sebenarnya adalah penguasaan atas sumber daya, jalur perdagangan, dan pengaruh geopolitik. Dalam konteks ini, Selat Hormuz menjadi titik kunci. Jalur sempit ini adalah nadi distribusi energi dunia.
Menguasainya berarti mengendalikan aliran minyak global, yang pada gilirannya menjamin keberlangsungan industri dan ekonomi korporatokrasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-dan-Zulkifli.jpg)