KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai - Bagian 15, Korporatokrasi Global, Selat Hormuz dan Perdamaian
Dari perspektif ini, perang antara Amerika Serikat dan Iran tidak lagi tampak sebagai konflik biasa,
Iran memahami hal ini dengan sangat baik. Negara ini tidak mudah tergoda oleh pinjaman atau tekanan ekonomi.
Sejarah panjangnya yang relatif independen dari dominasi Barat membuatnya lebih tahan terhadap infiltrasi.
Konfrontasi Militer
Upaya untuk “menjadikan Iran seperti Venezuela” atau menggoyang kepemimpinan dari dalam pun tidak membuahkan hasil. Maka, opsi yang tersisa dalam logika kekuasaan adalah konfrontasi militer.
Di sisi lain, dinamika politik dalam negeri Amerika Serikat juga memperlihatkan sesuatu yang menarik.
Baca juga: Jemaah Haji Wafat di Tanah Suci Bertambah Jadi 7 Orang, Puluhan Masih Dirawat Intensif di Arab Saudi
Presiden AS Donald Trump, misalnya, sering dianggap sebagai figur paling berkuasa di dunia. Namun dalam konteks ini, tampak bahwa bahkan presiden pun tidak sepenuhnya bebas.
Keputusan-keputusan strategis yang diambilnya sering kali bertentangan dengan opini publik domestik, namun tetap dijalankan.
Ini mengindikasikan adanya tekanan yang lebih besar, kekuatan yang berada di atas struktur politik formal.
Dengan demikian, asumsi bahwa presiden Amerika adalah puncak kekuasaan global menjadi perlu dipertanyakan.
Dalam banyak kasus, justru korporatokrasi yang memainkan peran dominan, menentukan arah kebijakan yang berdampak pada masyarakat internasional di seluruh dunia.
Baca juga: VIDEO Kuba Jadi Target Militer Selanjutnya Usai Perang dengan Iran Berakhir
Namun di tengah kompleksitas ini, Iran menawarkan narasi yang berbeda. Keyakinan bahwa tidak ada kekuatan absolut selain Tuhan menjadi fondasi idelogi yang memperkuat ketahanan mereka.
Ini bukan sekadar retorika, melainkan sumber legitimasi dan keberanian dalam menghadapi tekanan global.
Perang dan damai, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar dua kondisi yang saling bertolak belakang.
Keduanya adalah bagian dari proses panjang perebutan kekuasaan.
Gencatan senjata mungkin terjadi, dialog mungkin dibuka, tetapi selama struktur kekuasaan global masih didominasi oleh kepentingan korporatokrasi, bayang-bayang konflik akan selalu ada.
Baca juga: 18 Jam Pencarian, Remaja Abdya Terseret Arus Sungai Krueng Manggeng Ditemukan Meninggal Dunia
Maka, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi “kapan perang berakhir?”, melainkan “apakah sistem yang melahirkan perang itu sendiri akan berubah?”
Tanpa trasnformasi konflik untuk perdamaian, perubahan mendasar, perdamaian hanya akan menjadi jeda sementara. Perdamaian suatu yang perlu diperjuangkan terus menerus oleh umat mansuia. Semoga!
*) Penulis adalah Anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) dan Anggota Majelis Pemuda Indonesia DPD KNPI Kabupaten Nagan Raya-Aceh
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com.
Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-dan-Zulkifli.jpg)