KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai - Bagian 15, Korporatokrasi Global, Selat Hormuz dan Perdamaian
Dari perspektif ini, perang antara Amerika Serikat dan Iran tidak lagi tampak sebagai konflik biasa,
Oleh: Yunidar ZA dan Zulkipli R. Angkop*)
Siapa yang tidak kenal John Perkin? Seorang, mantan ekonom Amerika Serikat yang dikenal sebagai penulis buku terlaris "Confessions of an Economic Hit Man" (2004).
Kemudian hari mengungkap perannya dalam memanipulasi negara berkembang agar terjerat utang raksasa kepada lembaga Barat, demi kepentingan korporasi dan geopolitik AS.
Kini John dikenal sebagai aktivis yang memperjuangkan perubahan sistem ekonomi globa, telah membuka tabir yang selama ini terselubung rapi dalam dinamika hubungan internasional.
John, bukan sekadar analis atau akademisi yang berbicara dari menara gading, melainkan pelaku langsung dalam praktik yang ia sebut sebagai economic hitman.
Dalam bukunya Confessions of an Economic Hitman, ia menguraikan bagaimana negara-negara kaya sumber daya, terutama minyak, dijerat melalui utang, manipulasi ekonomi, hingga intervensi politik.
Dari perspektif ini, perang antara Amerika Serikat dan Iran tidak lagi tampak sebagai konflik biasa, melainkan bagian dari skema besar yang nyaris tak terhindarkan.
Baca juga: Trump Ancam Serangan Baru ke Iran Jika Membangkang
Di balik layar, terdapat kekuatan yang sering luput dari perhatian publik. Korporatokrasi.
Ini bukan sekadar kumpulan perusahaan besar, melainkan jaringan kekuasaan yang mampu mengendalikan media, memengaruhi politisi, bahkan menyusup ke dalam lembaga internasional dan dunia akademik.
Mereka tidak hanya mengikuti kebijakan, mereka membentuknya.
Kepentingannya tunggal, memastikan roda bisnis global terus berputar, tanpa memedulikan biaya kemanusiaan yang harus dibayar.
Baca juga: Perang dan Damai – Bagian 14, Perjuangan Membangun Perdamaian
Kritik terhadap dominasi ini sebenarnya bukan hal baru. Michel Foucault telah lama menunjukkan bagaimana kekuasaan bekerja melalui wacana, membentuk apa yang dianggap sebagai “kebenaran.”
Sementara Arturo Escobar mengkritik konsep “negara berkembang” sebagai konstruksi Barat untuk melegitimasi intervensi ekonomi dan politik.
Istilah seperti pembangunan (development) bukanlah netral.
Namun, sebagai alat untuk membingkai dunia agar sesuai dengan kepentingan kekuatan dominan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-dan-Zulkifli.jpg)