Pojok Humam Hamid
Perang Iran, Pupuk, dan Piring Nasi Kita
Dalam konteks itulah kita harus memahami kembali konflik Iran dan implikasinya terhadap sistem pangan global.
Ketika pemupukan menjadi tidak seimbang, produktivitas turun - bukan secara drastis dalam satu musim, tetapi secara bertahap dan sistemik.
Di tingkat individu, keputusan petani ini rasional. Namun dalam skala besar, akumulasi keputusan tersebut menghasilkan penurunan output nasional.
Pola ini bukan hal baru. Dalam banyak episode krisis global, kenaikan harga input selalu menjadi tahap awal yang sering tidak disadari.
Dampaknya baru terasa ketika produksi mulai menurun dan harga pangan naik.
Contoh paling jelas adalah Krisis Pangan Global 2007–2008, ketika lonjakan harga energi dan pupuk mendorong perubahan perilaku produksi secara global.
Yang membuat situasi saat ini lebih kompleks adalah tingkat keterhubungan sistem global.
Rantai pasok modern sangat efisien, tetapi memiliki cadangan yang relatif tipis.
Tidak seperti minyak, pupuk tidak memiliki cadangan strategis dalam skala besar.
Baca juga: Diam-Diam Masuk ke Tubuh, Mikroplastik Jadi Ancaman
Akibatnya, pasar menjadi sangat sensitif terhadap gangguan. Sedikit saja perubahan pada pasokan dapat memicu lonjakan harga yang signifikan.
Negara berkembang berada pada posisi paling rentan. Ketergantungan pada impor input pertanian membuat mereka sangat sensitif terhadap fluktuasi global.
Subsidi dapat menahan dampak jangka pendek, tetapi tidak mengubah struktur dasar ketergantungan.
Produksi Domestik vs Sistem Global
Indonesia, dalam hal ini, berada di tengah-tengah. Di satu sisi memiliki kapasitas produksi domestik, di sisi lain tetap terhubung dengan sistem global melalui energi dan bahan baku pupuk.
Kenaikan harga global akan diterjemahkan menjadi tekanan pada petani, tekanan fiskal melalui subsidi, dan pada akhirnya tekanan pada harga pangan domestik.
Di titik inilah pertanyaan kebijakan menjadi krusial. Pemerintah tidak cukup hanya meredam harga; yang dibutuhkan adalah penguatan sistem.
Secara nasional, pendekatan harus bergeser menuju manajemen risiko.
pojok humam hamid
Prof Humam Hamid
Ahmad Humam Hamid
Humam Hamid
Opini
perang iran
krisis energi
Meaningful
| Purbaya, “Indonesia Survival Mode”: Diagnosis, Peringatan, dan Reportoar Kehati-hatian |
|
|---|
| Posisi Strategis Selat Malaka dalam Integrasi Jalur Energi dan Perdagangan Global |
|
|---|
| 821 Tahun Banda Aceh: Mau ke Mana Kota Kita? |
|
|---|
| Irwandi, Mualem, dan “Peunutoh”: “JKA Bandum” vs “JKA Kudok” - Akankah Lahir Paradoks Kebijakan? |
|
|---|
| MDCP Prabowo dan Trump: Kenapa Kita Harus Tahu? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Humam-Hamid-tanggapi-Benny-K-Harman.jpg)