Senin, 4 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Perang Iran, Pupuk, dan Piring Nasi Kita

Dalam konteks itulah kita harus memahami kembali konflik Iran dan implikasinya terhadap sistem pangan global.

Tayang:
Editor: Subur Dani
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Jika kita membaca sejarah dunia dengan kacamata jangka panjang, satu hal menjadi jelas: peradaban tidak runtuh oleh peristiwa tunggal, melainkan oleh rangkaian gangguan kecil yang saling memperkuat. 

Perang, inflasi, kelangkaan, dan krisis energi jarang berdiri sendiri. Mereka adalah simpul dalam satu jaringan yang sama.

Dalam konteks itulah kita harus memahami kembali konflik Iran dan implikasinya terhadap sistem pangan global.

Kita cenderung memperlakukan perang sebagai peristiwa geografis: terjadi di suatu wilayah, berdampak pada wilayah itu, lalu mereda. 

Baca juga: Posisi Strategis Selat Malaka dalam Integrasi Jalur Energi dan Perdagangan Global

Tetapi dalam ekonomi global abad ke-21, perang tidak lagi lokal. Ia bersifat sistemik. 

Ia merambat melalui harga energi, jalur logistik, dan pasar komoditas. Dan dari semua jalur transmisi itu, yang paling jarang diperhatikan adalah pupuk.

Padahal pupuk adalah titik temu antara energi, pertanian, dan stabilitas sosial. Produksi pupuk nitrogen sangat bergantung pada gas alam. 

Artinya, setiap guncangan geopolitik di kawasan produsen energi utama akan segera diterjemahkan menjadi biaya produksi pangan. 

Tidak secara langsung, tetapi melalui mekanisme harga yang bekerja di tingkat global, sering kali tidak terlihat oleh konsumen akhir.

Ketegangan di kawasan tersebut mengganggu salah satu simpul terpenting perdagangan global: Selat Hormuz. 

Bersama dengan Bab el-Mandeb, dua jalur ini berfungsi sebagai arteri utama distribusi energi dan bahan baku pupuk dunia.

Baca juga: Iran dan Gencatan Senjata: “Lamuek” Hormuz, Nuklir, dan Adi Kuasa Timur Tengah

Gangguan pada jalur ini tidak hanya memperlambat arus kapal, tetapi juga membentuk ekspektasi pasar. 

Dalam ekonomi komoditas, ekspektasi sering kali lebih menentukan daripada realisasi fisik. Begitu risiko meningkat, harga langsung merespons. 

Di sinilah geopolitik diterjemahkan menjadi tekanan ekonomi.

Antara Energi dan Pangan

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved