Senin, 4 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Perang Iran, Pupuk, dan Piring Nasi Kita

Dalam konteks itulah kita harus memahami kembali konflik Iran dan implikasinya terhadap sistem pangan global.

Tayang:
Editor: Subur Dani
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Prioritas pertama adalah mengamankan pasokan pupuk non-nitrogen melalui kontrak jangka panjang, diversifikasi sumber, dan pembentukan cadangan strategis. 

Baca juga: Thailand Bebaskan Muhammad Yunus, 18 Lainnya Masih Ditahan

Tanpa langkah ini, setiap gangguan eksternal akan terus berulang sebagai krisis domestik.

Reformasi subsidi menjadi langkah berikutnya. Subsidi harus berbasis produktivitas dan presisi distribusi, bukan sekadar volume. 

Digitalisasi distribusi menjadi kunci untuk memastikan efisiensi dan ketepatan sasaran.

Di sisi hulu, kebijakan energi harus diselaraskan dengan kebutuhan industri pupuk nasional. Harga gas domestik yang stabil bukan sekadar isu energi, tetapi fondasi bagi stabilitas pangan.

Penguatan logistik dan cadangan beras juga tidak bisa ditunda. Dalam sistem yang rapuh, buffer menjadi pembeda antara tekanan dan krisis.

Di daerah seperti Aceh, efek ini terasa lebih konkret. Keterlambatan pupuk, kenaikan harga input, dan terbatasnya akses pembiayaan dapat langsung menurunkan intensitas dan kualitas pemupukan. 

Dalam jangka pendek, dampaknya mungkin tidak mencolok. Namun dalam satu hingga dua musim tanam, penurunan produktivitas akan mulai terlihat.

Baca juga: JKA, Antara Harapan dan Keterbatasan

Karena itu, fokus kebijakan di tingkat daerah harus praktis: memastikan pupuk tersedia tepat waktu, memperluas akses kredit bagi petani, dan memperkuat penyuluhan agar pemupukan tetap berimbang. 

Tanpa intervensi ini, tekanan global tidak berhenti di pasar - ia akan berakhir di sawah.

Apa yang kita hadapi saat ini bukanlah satu krisis tunggal, melainkan pertemuan beberapa tekanan sekaligus: geopolitik, energi, dan pangan.

Dalam sistem yang sangat terintegrasi, tekanan-tekanan ini tidak bekerja sendiri. Mereka saling memperkuat.

Pertanyaan yang relevan bukan lagi apakah harga akan naik atau turun, tetapi apakah sistem ini mampu menyerap guncangan berulang tanpa mengalami gangguan yang lebih besar.

Baca juga: VIDEO - Sosok Ashari Kiai di Pati Nikmati 50 Santriwati, Klaim Wali Nabi hingga Suap Pengacara

Sejarah menunjukkan bahwa sistem seperti ini sering tampak stabil hingga titik tertentu, sebelum berubah secara cepat.

Pada akhirnya, perang mungkin dimulai di ruang politik. Tetapi dampaknya selalu berakhir di ruang paling dasar kehidupan manusia: makanan.

Sepiring nasi, dalam konteks ini, bukan sekadar produk ekonomi. Ia adalah hasil dari seluruh sistem global - energi, logistik, geopolitik, dan kebijakan - yang bekerja di belakangnya.

Dan seperti banyak pelajaran sejarah lainnya, makna dari semua ini sering kali baru benar-benar dipahami setelah krisis terjadi, bukan sebelumnya.(*)

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved