Kupi Beungoh
Syeh Syoh: Behavioral Noise di Forum Publik Aceh
“Bek syeh syoh” bukan sekadar teguran, tapi cermin budaya rapat kita. Gangguan kecil yang dianggap sepele justru perlahan merusak kualitas musyawarah.
Dalam tradisi Islam, diam bukan kelemahan, melainkan kematangan akal dan adab. Tidak semua hal harus disela atau dipertontonkan. Kadang kontribusi terbesar justru lahir dari kemampuan duduk tenang dan mendengar sampai tuntas.
Dalam perspektif modern, ini sejalan dengan mindful communication (komunikasi penuh kesadaran), deep listening (mendengar secara mendalam), dan attention ethics (etika perhatian): kesadaran bahwa perhatian adalah sumber daya moral yang menentukan kualitas musyawarah.
Sebab sebuah masyarakat tidak hanya diukur dari kerasnya bicara tentang syariat, tetapi juga dari kemampuannya menjaga adab ketika orang lain berbicara. Jika ruang musyawarah saja gagal dijaga ketenangannya, bagaimana kejernihan keputusan bisa lahir?
Karena itu, “bek syeh syoh” bukan sekadar candaan politik, melainkan kritik terhadap budaya gangguan yang perlahan merusak akal sehat musyawarah.
Di era media sosial, manusia makin sulit fokus, makin cepat tersinggung, dan makin gemar bereaksi tanpa mendengar tuntas. Forum tidak lagi melahirkan kebijaksanaan, tetapi sering membawa pulang ego, prasangka, dan permusuhan. Aceh tidak kekurangan orang pintar dan anggaran, tetapi terlalu lama membiarkan syeh syoh tumbuh menjadi budaya.
Maka sebelum menertawakan istilah itu, mungkin kita perlu bertanya: dalam forum terakhir yang kita hadiri, kita menghadirkan kejernihan—atau justru ikut menambah kebisingan?
Mualem tidak salah mengingatkan “bek syeh syoh”. Sebab “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad).
Dan dalam sebuah musyawarah, manfaat terbesar kadang bukan datang dari yang paling banyak bergerak atau berbicara, tetapi dari mereka yang mampu menjaga adab, ketenangan, dan kejernihan forum.
Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Sekolah di Persimpangan Jalan: Antara Akses, Pilihan, dan Ketimpangan |
|
|---|
| PERTI Aceh: Menjaga Sanad, Merawat Tradisi, dan Menata Arah Keberagamaan |
|
|---|
| Di Aceh, Siapa yang Melindungi Perempuan? |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 15, Korporatokrasi Global, Selat Hormuz dan Perdamaian |
|
|---|
| Menghindari JKA Sebagai Sumbu Konflik: Urgensi Cooling Down bagi Elite Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Guru-Besar-Ekonomi-Islam-Universitas-Syiah-Kuala-Banda-Aceh-Shabri-A-Majid.jpg)