Selasa, 5 Mei 2026

Kupi Beungoh

Syeh Syoh: Behavioral Noise di Forum Publik Aceh  

“Bek syeh syoh” bukan sekadar teguran, tapi cermin budaya rapat kita. Gangguan kecil yang dianggap sepele justru perlahan merusak kualitas musyawarah.

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
SHABRI A MAJID - Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. 

Ada yang mondar-mandir, berbisik pelan, memainkan telepon genggam, atau keluar-masuk seolah forum hanyalah ruang transit. Kelihatannya kecil dan sering dianggap biasa. 

Namun dari gangguan-gangguan kecil itulah konsentrasi pecah, alur pikir terputus, dan kualitas forum perlahan runtuh. Satu orang syeh syoh kadang cukup untuk membuat satu ruangan kehilangan fokusnya.

Padahal Aceh adalah negeri syariat yang membanggakan adab majelis dan penghormatan terhadap ilmu. Al-Qur’an mengingatkan, “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat” (QS. Al-A’raf: 204).

Namun ironisnya, kita sering keras menjaga simbol syariat, tetapi longgar menjaga adab perhatian. Kita ingin dihormati saat berbicara, tetapi sulit memberi ketenangan ketika orang lain berbicara.

Karl Weick (2009) mengingatkan bahwa organisasi sering runtuh bukan karena satu keputusan besar yang salah, tetapi karena percakapan yang retak sedikit demi sedikit.

Dalam teori Shannon–Weaver (1949), noise (gangguan komunikasi) adalah segala sesuatu yang mengaburkan pesan. Namun di banyak ruang rapat kita, noise itu berjalan dengan kaki manusia.

Inilah behavioral noise (gangguan perilaku): hal kecil yang tampak remeh, tetapi diam-diam merusak kualitas keputusan publik. Pembahasan menjadi dangkal, keputusan dipercepat karena forum sudah lelah, dan ruang musyawarah kehilangan kejernihannya.

Dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar rapat yang tidak kondusif. Dalam pendidikan, syeh syoh mematikan deep thinking (berpikir mendalam). Dalam birokrasi, ia melahirkan keputusan dangkal. Dalam kehidupan sosial, ia membentuk generasi yang cepat bereaksi tetapi sulit mendengar.

Elinor Ostrom (2012) mengingatkan bahwa institusi besar sering melemah bukan karena serangan besar, melainkan karena retakan kecil yang terus dibiarkan. Dan mungkin, salah satu retakan kecil itu sedang mondar-mandir di ruang rapat kita sendiri.

Baca juga: Berawal dari Keresahan Hoaks, Mahasiswa USK Ini Bawa Pulang Juara 2 Nasional UNICEF

Bek Syeh Syoh: Kembali ke Adab Aceh dan Akal Sehat

Ironisnya, jauh sebelum teori modern tentang behavioral noise (gangguan perilaku) lahir, Aceh sebenarnya telah memiliki tradisi komunikasi yang jauh lebih matang.

Ada haba soe teudeng (kata harus ditimbang), peusaboh sinyal (dengar sebelum bicara), peusantun haba (bicara dengan adab, bukan volume), dan peupat tamita (duduk tetap agar forum tidak kacau).

Semua itu menunjukkan bahwa menjaga ketenangan forum sejak lama dipahami sebagai bagian dari menjaga martabat ilmu dan musyawarah. 

Dalam Islam, adab mendengar ditempatkan sangat tinggi. Al-Qur’an mengingatkan untuk mendengar dan diam ketika kebenaran disampaikan (QS. Al-A’raf: 204). Diam dan mendengar bukan sekadar sopan santun, tetapi bagian dari akhlak dan jalan memperoleh hikmah.

Masalahnya bukan karena Aceh kehilangan nilai, tetapi karena kita perlahan berhenti mempraktikkannya.

Karena itu, melawan syeh syoh tidak membutuhkan revolusi besar, tetapi disiplin perhatian. Moderator harus menjaga ritme forum, pemimpin memberi teladan tenang, dan peserta rapat memahami bahwa mendengar juga bagian dari kontribusi: “berkata baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim).

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved