Citizen Reporter
Student Exchange Ke Brunei: Melihat Langsung Negara yang Religius, Tertib, dan Lestarikan Hutan
Muhammad Rafis Khalis, salah satu dari 13 mahasiswa UIN Ar-Raniry yang mendapat kesempatan mengikuti program Student Exchange ke Negeri Brunei
Tidak pernah terlihat pakaian terbuka di ruang publik. Bagi kami rasanya nyaman seperti di Aceh sehari-hari.
Tertib Membudaya, Bukan Dipaksa
Saya terkesan bukan karena Brunei rapi dan sangat bersih, tapi karena kerapian itu terasa sangat alami.
Pejalan kaki benar-benar diutamakan. Lalu lintas damai, nyaris tanpa suara klakson, tanpa knalpot brong dan sebagainya, jalan raya mulus, bersih, minim sampah.
Fasilitas publik seperti taman, halte, dan masjid terawat sekali.
Pelayanan publiknya sangat ramah. Dari petugas bandara hingga staf kampus, semua murah senyum dan sabar melayani. Budaya bermufakat (musyawarah) masih hidup dalam keseharian mereka.
Ini bukan sekadar disiplin. Ini akhlak yang sudah membudaya bagi warga Brunei.
Hutan yang Diselamatkan dari Modernisasi
Yang paling mengejutkan: di tengah kekayaan minyak dan gaya hidup modern, Brunei berhasil melestarikan hampir 80 persen wilayahnya sebagai hutan hujan yang sangat asri.
Sebagai karya Sultan dalam melestarikan tanaman membuat Brunei seperti Kota di tengah hutan,
Taman Jerudong yang dibangun dengan dana US$ 1 miliar (sekitar Rp14 triliun) memang sangat megah.
Baca juga: UIN Ar-Raniry Perpanjang MoU dengan UNISSA, Buka Akses Riset dan Mobilitas Mahasiswa ke Brunei
Tapi kemegahannya yang tak merusak. Di balik taman hiburan termahal se-Asia Tenggara itu, hutan tropis tetap dijaga. Sehingga flora dan fauna masih ada rumahnya masing-masing.
Brunei membuktikan bahwa modernitas dan kelestarian bisa berjalan berdampingan untuk keseimbangan hidup dengan alam,
Warisan Serumpun yang Membanggakan
Tapi yang paling berkesan bagi saya pribadi adalah ketika menelusuri jejak hubungan sejarah Aceh dan Brunei, dimana sejumlah aturan yang termuat dalam Qanun Brunei persis seperti Qanun Al-Asyi (Qanun Meukuta Alam) produk intelektual Aceh pada Kesultanan Aceh Darussalam.
Kemudian kami berziarah ke makam Sultan Bolkiah dan sultan-sultan lain. Batu nisannya, tulisan Jawi di kompleks makam mirip sekali dengan makam kuno di Aceh.
Di Penberneo (Pusat Sejarah Brunei) dan perpustakaan UNISSA, saya melihat manuskrip kuno Melayu-Jawi tentang hukum dalam Qanun, sastra hikayat, sampai surat-surat diplomatik antara Kesultanan Brunei dengan kerajaan-kerajaan Nusantara, termasuk Aceh.
Konsep Melayu Islam Beraja bukan sekadar jargon. Hidup budaya bertitah, penghormatan pada Sultan, hingga kebijakan negara menjaga khazanah keilmuan dan makam leluhur semuanya nyata.
Khazanah Manuskrip dan Kesadaran yang Terkuak
Tapi ada satu hal yang benar-benar menggetarkan saya saat berdiri di depan lemari-lemari kaca berisi manuskrip kuno itu. Bukan sekadar kagum. Tapi rasa dikenal.
Citizen Reporter
Brunei Darussalam
Brunei
UIN Ar-Raniry
mahasiswa
UNISSA
Universiti Islam Sultan Sharif Ali
hutan
Religius
Student Exchange
| Rahasia di Balik Kemajuan dan Keteraturan Singapura |
|
|---|
| Indonesia Kaya SDA, Tapi Mengapa Rakyat Miskin dan Bodoh? |
|
|---|
| Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam |
|
|---|
| Jemput Ilmu dan Jaringan Internasional: 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Terbang ke Brunei Darussalam |
|
|---|
| 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Lulus Program Student Exchange ke Brunei Darussalam 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Muhammad-Rafis-Khalis-salah-satu-dari-13-mahasiswa-UIN-Ar-Raniry-ke-Brunei.jpg)