Selasa, 5 Mei 2026

Citizen Reporter

Student Exchange Ke Brunei: Melihat Langsung Negara yang Religius, Tertib, dan Lestarikan Hutan

Muhammad Rafis Khalis, salah satu dari 13 mahasiswa UIN Ar-Raniry yang mendapat kesempatan mengikuti program Student Exchange ke Negeri Brunei

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Muhammad Rafis Khalis, salah satu dari 13 mahasiswa UIN Ar-Raniry yang mendapat kesempatan mengikuti program Student Exchange ke Negeri Berneo. Program ini adalah hasil kerja sama kampus kami dengan Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Brunei dan bahkan di Asia Tenggara. 

Tidak pernah terlihat pakaian terbuka di ruang publik. Bagi kami rasanya nyaman seperti di Aceh sehari-hari.

Tertib Membudaya, Bukan Dipaksa

Saya terkesan bukan karena Brunei rapi dan sangat bersih,  tapi karena kerapian itu terasa sangat alami.

Pejalan kaki benar-benar diutamakan. Lalu lintas damai, nyaris tanpa suara klakson, tanpa knalpot brong dan sebagainya, jalan raya mulus, bersih, minim sampah. 

Fasilitas publik seperti taman, halte, dan masjid terawat sekali.

Pelayanan publiknya sangat ramah. Dari petugas bandara hingga staf kampus, semua murah senyum dan sabar melayani. Budaya bermufakat (musyawarah) masih hidup dalam keseharian mereka.

Ini bukan sekadar disiplin. Ini akhlak yang sudah membudaya bagi warga Brunei.

Hutan yang Diselamatkan dari Modernisasi

Yang paling mengejutkan: di tengah kekayaan minyak dan gaya hidup modern, Brunei berhasil melestarikan hampir 80 persen wilayahnya sebagai hutan hujan yang sangat asri.

Sebagai karya Sultan dalam melestarikan tanaman membuat Brunei seperti Kota di tengah hutan,
Taman Jerudong yang dibangun dengan dana US$ 1 miliar (sekitar Rp14 triliun) memang sangat megah. 

Baca juga: UIN Ar-Raniry Perpanjang MoU dengan UNISSA, Buka Akses Riset dan Mobilitas Mahasiswa ke Brunei

Tapi kemegahannya yang tak merusak. Di balik taman hiburan termahal se-Asia Tenggara itu, hutan tropis tetap dijaga. Sehingga flora dan fauna masih ada rumahnya masing-masing.

Brunei membuktikan bahwa modernitas dan kelestarian bisa berjalan berdampingan untuk keseimbangan hidup dengan alam, 

Warisan Serumpun yang Membanggakan

Tapi yang paling berkesan bagi saya pribadi adalah ketika menelusuri jejak hubungan sejarah Aceh dan Brunei, dimana sejumlah aturan yang termuat dalam Qanun Brunei persis seperti Qanun Al-Asyi (Qanun Meukuta Alam) produk intelektual Aceh pada Kesultanan Aceh Darussalam.

Kemudian kami berziarah ke makam Sultan Bolkiah dan sultan-sultan lain. Batu nisannya, tulisan Jawi di kompleks makam mirip sekali dengan makam kuno di Aceh.

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Muhammad Rafis Khalis menerima Cendera Mata Dari Ustadz Ahmad di Penborneo (pusat pengkajian borneo) Bandar Seri Bengawan, Brunei Darussalam
Mahasiswa UIN Ar-Raniry Muhammad Rafis Khalis menerima Cendera Mata Dari Ustadz Ahmad di Penborneo (pusat pengkajian borneo) Bandar Seri Bengawan, Brunei Darussalam (Serambinews.com/HO)

Di Penberneo (Pusat Sejarah Brunei) dan perpustakaan UNISSA, saya melihat manuskrip kuno Melayu-Jawi tentang hukum dalam Qanun, sastra hikayat, sampai surat-surat diplomatik antara Kesultanan Brunei dengan kerajaan-kerajaan Nusantara, termasuk Aceh.

Konsep Melayu Islam Beraja bukan sekadar jargon. Hidup budaya bertitah, penghormatan pada Sultan, hingga kebijakan negara menjaga khazanah keilmuan dan makam leluhur semuanya nyata.

Khazanah Manuskrip dan Kesadaran yang Terkuak

Tapi ada satu hal yang benar-benar menggetarkan saya saat berdiri di depan lemari-lemari kaca berisi manuskrip kuno itu. Bukan sekadar kagum. Tapi rasa dikenal.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved