Selasa, 5 Mei 2026

Citizen Reporter

Student Exchange Ke Brunei: Melihat Langsung Negara yang Religius, Tertib, dan Lestarikan Hutan

Muhammad Rafis Khalis, salah satu dari 13 mahasiswa UIN Ar-Raniry yang mendapat kesempatan mengikuti program Student Exchange ke Negeri Brunei

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Muhammad Rafis Khalis, salah satu dari 13 mahasiswa UIN Ar-Raniry yang mendapat kesempatan mengikuti program Student Exchange ke Negeri Berneo. Program ini adalah hasil kerja sama kampus kami dengan Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Brunei dan bahkan di Asia Tenggara. 

Selama di Brunei, saya tidak sendiri. Ada Ustadz Hilmi, warga Negara Brunei dan sanak familynya ada Ustadz Jufri, Ustadz Fahmi, dan Tgk Ahyar yang sedang menjalani S2 di sana. Mereka  membantu kami mengakses berbagai tempat sejarah Brunei.

Mereka juga memperkenalkan kami dengan Ustadz Muhammad, orang yang dituakan oleh diaspora Aceh di Brunei.

"Beliau semua sudah seperti ayah kami di sini," selama dua pekan.

Kami juga diperkenalkan dengan Ustadz Fatahillah dan dosen pembimbing kami selama di UNISSA, Dr. Efna Durani.

Pulang dengan Cerita, Bawa Pelajaran

Dua pekan di Brunei membuka mata saya.

Brunei mengajarkan bahwa negara kecil pun bisa besar jika sistemnya utuh. Bahwa hukum yang tegas bukan musuh kenyamanan. 

mahasiswa UIN Ar-Raniry yang mendapat kesempatan mengikuti program Student Exchange ke Negeri Berneo. Program ini adalah hasil kerja sama kampus kami dengan Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Brunei dan bahkan di Asia Tenggara
mahasiswa UIN Ar-Raniry yang mendapat kesempatan mengikuti program Student Exchange ke Negeri Berneo. Program ini adalah hasil kerja sama kampus kami dengan Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Brunei dan bahkan di Asia Tenggara (Serambinews.com/HO)

Bahwa modernitas tak harus membunuh alam. Bahwa manuskrip bukan sekadar kertas tua, tapi sesungguhnya dia jantung peradaban.

Dan yang paling penting: bahwa Aceh dan Brunei, kita serumpun. Bukan hanya secara budaya dan syariat, tapi juga dalam cara memuliakan leluhur, ilmu, dan agama.

Baca juga: Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam

Saya pulang sebagai orang Aceh yang lebih bangga. Dan sedikit lebih paham: menjadi serumpun itu bukan hanya soal sejarah yang sama, tapi juga soal keberanian dalam komitmen mempertahankan identitas.

"Kita dan Brunei serumpun. Dari cara berpakaian, infrastruktur rapi, ziarah makam Sultan, sampai cara negara menjaga agama, ilmu, dan manuskrip sebagai tulang punggung produk budaya masa lalu, semuanya pelajaran penting. Bikin saya makin bangga jadi orang Aceh."

Dari Brunei, Rafis pulang bukan dengan tangan kosong. Saya pulang dengan kesadaran yang terkuak: bahwa menjadi sarjana tidak harus selalu tentang hal-hal baru. 

Kadang, menjaga yang lama adalah bentuk keberanian yang paling langka.(*)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved