Kupi Beungoh
Membaca Angka Statistik Partisipasi Usia Sekolah di Aceh
Angka ini menunjukkan bahwa hampir seluruh anak usia sekolah dasar dan menengah pertama telah masuk ke dalam sistem pendidikan formal.
*) Oleh: Djamaluddin Husita
MASIH dalam suasana Hari Pendidikan Nasional, perhatian terhadap pendidikan kembali menguat di ruang publik.
Peringatan ini menjadi momen untuk melihat kembali sejauh mana pendidikan berjalan, bukan hanya dari apa yang diucapkan, tetapi dari apa yang benar-benar terjadi. Dalam konteks itu, angka statistik menjadi penting karena mampu menunjukkan kondisi secara lebih terukur dan apa adanya.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik Aceh tahun 2024 (rilis 2025) menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Sekolah pada usia 7–12 tahun mencapai 99,42 persen, sementara pada usia 13–15 tahun berada pada angka 97,77 persen.
Angka ini menunjukkan bahwa hampir seluruh anak usia sekolah dasar dan menengah pertama telah masuk ke dalam sistem pendidikan formal.
Capaian ini memperlihatkan bahwa persoalan akses pada jenjang dasar relatif sudah teratasi, setidaknya dalam ukuran statistik.
Namun, gambaran tersebut mulai berubah ketika melihat kelompok usia 16–18 tahun. Pada kelompok ini, angka partisipasi turun menjadi sekitar 81,55 persen.
Penurunan ini tidak bisa dibaca sebagai variasi biasa, melainkan sebagai sinyal adanya persoalan dalam keberlanjutan pendidikan.
Pada fase ini, sekolah tidak lagi sekadar kewajiban, tetapi mulai berhadapan dengan realitas kehidupan yang lebih kompleks.
Perbedaan ini semakin terlihat melalui Angka Partisipasi Murni pada jenjang SMA/SMK/MA yang berada di kisaran 71 hingga 73 persen.
Tidak semua anak usia sekolah menengah berada pada jenjang yang sesuai dengan usianya. Semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar kemungkinan siswa keluar dari sistem.
Dari sini terlihat bahwa persoalan utama pendidikan di Aceh bukan lagi pada membuka akses, tetapi pada menjaga keberlanjutan partisipasi hingga jenjang yang lebih tinggi.
Mengurai Akar di Balik Angka
Jika angka-angka tersebut dibaca lebih dalam, terlihat bahwa penurunan partisipasi tidak berdiri sendiri.
Tekanan ekonomi masih menjadi faktor yang paling nyata dalam kehidupan banyak keluarga.
Dalam kondisi penghasilan terbatas, pendidikan sering kali harus bersaing dengan kebutuhan hidup yang lebih mendesak.
| Interprofessional Education Bukan Hanya Belajar Bersama, tetapi Tentang Bertahan Bersama |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 16, Kebebasan Berlayar di Selat Hormuz sebagai Jalan Perdamaian |
|
|---|
| Internsip Dokter dan Krisis Otonomi Akademik |
|
|---|
| Kritisi Pergub JKA, Dua Aksi Beda Cara |
|
|---|
| Menjaga Api yang Terus Menyala: Kiat Keberlanjutan Pengelolaan Sampah Sehat di Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Alumnus-Pascasarjana-FMIPA-UNPAD-Bandung-Djamaluddin-Husita.jpg)