Kamis, 7 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Siapa Mengendalikan Pertumbuhan Banda Aceh-Aceh Besar?

lahan yang paling mudah dikorbankan adalah sawah, kebun, dan ruang terbuka, karena dianggap paling tidak “bernilai ekonomi langsung”

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Dalam proses industrialisasi, desa-desa di sekitarnya berubah menjadi kawasan pabrik dan permukiman buruh.

Transisi antara ruang agraris dan industri tidak berlangsung secara bertahap, melainkan melompat mengikuti investasi. 

Akibatnya, struktur ruang menjadi terfragmentasi: kawasan industri, permukiman, dan ruang sisa tumbuh tanpa integrasi yang jelas.

Contoh lain adalah Ludhiana di negara bagian Punjab, India. Kota ini berkembang sebagai pusat industri tekstil dan manufaktur. 

Namun ekspansi industri dan perumahan tidak diimbangi dengan perencanaan ruang yang terpadu. Lahan pertanian di pinggiran kota terpecah-pecah menjadi bidang kecil yang tidak lagi produktif secara optimal.

Infrastruktur jalan dan transportasi publik juga tidak berkembang secepat perluasan wilayah kota, sehingga menciptakan ketimpangan akses antar kawasan.

Di Thailand, Nonthaburi di wilayah metropolitan Bangkok menunjukkan pola lain dari urban sprawl. 

Nonthaburi tumbuh sebagai kota penyangga yang kemudian menyatu dengan ekspansi Bangkok. 

Permukiman menyebar tanpa batas tegas antara kota dan desa. Kanal dan sistem air yang sebelumnya menjadi struktur ekologis utama kota perlahan terdesak oleh pembangunan. 

Di sini terlihat bagaimana koordinasi antarwilayah administratif tidak selalu mampu mengikuti realitas ruang yang sudah menyatu secara fungsional.

Baca juga: Konflik Gajah di Aceh: Salah Gajah atau Salah Tata Ruang?

Sementara itu, di Amerika Serikat, Riverside di negara bagian California menjadi contoh klasik suburban sprawl.

Kota ini berkembang secara horizontal dengan kepadatan rendah, sangat bergantung pada mobil pribadi, dan terus mengonsumsi lahan terbuka di pinggiran. 

Dalam jangka panjang, model ini menciptakan beban infrastruktur yang tinggi, ketergantungan transportasi yang tidak efisien, dan konsumsi ruang yang sulit dihentikan.

Dari keempat contoh ini, meskipun konteksnya berbeda, pola dasarnya sangat konsisten: kota-kota menengah tidak gagal karena kurang pembangunan, tetapi karena pertumbuhan yang tidak diimbangi dengan koordinasi lintas wilayah dan keterlambatan institusi dalam membaca perubahan ruang.

Pengarah ruang kawasan

Jika kita kembali ke Banda Aceh dan Aceh Besar, maka pelajaran ini menjadi sangat relevan. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved