Pojok Humam Hamid
Siapa Mengendalikan Pertumbuhan Banda Aceh-Aceh Besar?
lahan yang paling mudah dikorbankan adalah sawah, kebun, dan ruang terbuka, karena dianggap paling tidak “bernilai ekonomi langsung”
Dalam situasi seperti ini, keputusan pembangunan tidak lagi dikendalikan oleh satu visi kawasan, tetapi oleh banyak kepentingan lokal yang berjalan paralel.
Akibatnya, lahan yang paling mudah dikorbankan adalah sawah, kebun, dan ruang terbuka, karena dianggap paling tidak “bernilai ekonomi langsung” dalam jangka pendek.
Sementara itu, Mike Douglass adalah akademisi internasional yang banyak meneliti urbanisasi di Asia, khususnya Asia Tenggara.
Ia memperkenalkan konsep “emerging metropolitan regions”, yaitu kawasan metropolitan yang tidak lahir dari desain awal yang terencana, tetapi dari akumulasi pertumbuhan ekonomi, migrasi, dan investasi yang berjalan lebih cepat daripada kemampuan tata kelola ruang.
Dalam kerangka Douglass, kota-kota di Asia sering tidak pernah benar-benar “dirancang selesai”.
Baca juga: Cisarua dan Pelajaran Pahit Tata Ruang di Lereng Bukit
Mereka tumbuh terlebih dahulu, baru kemudian diatur - dan sering kali pada titik ketika struktur ruang sudah terlanjur terbentuk.
Ia juga menekankan bahwa dalam banyak kasus, kota dan desa sudah menyatu secara ekonomi, tetapi tidak pernah benar-benar disatukan secara institusional.
Di sinilah akar dari urban sprawl: bukan sekadar perluasan fisik, tetapi keterlambatan institusional dalam merespons realitas ruang.
Jika kita membawa dua perspektif ini ke Banda Aceh dan Aceh Besar, maka yang sedang terjadi bukan sekadar urbanisasi biasa.
Ini adalah fase awal dari pembentukan kawasan metropolitan yang belum memiliki sistem kendali tunggal.
Mobilitas harian meningkat, aktivitas ekonomi menyebar, dan batas ruang menjadi semakin cair.
Namun sistem pemerintahan masih bekerja dengan logika lama: seolah-olah ini dua wilayah yang terpisah.
Di sinilah persoalan menjadi serius. Karena ketika ruang sudah menyatu tetapi kebijakan masih terpisah, maka yang terjadi bukan keteraturan, melainkan tumpang tindih keputusan pembangunan.
Untuk memahami bahwa ini bukan fenomena lokal semata, kita bisa melihat sejumlah kota menengah di dunia yang mengalami pola serupa.
Baca juga: Kakanwil BPN Aceh Sebut Tata Ruang Jangan Jadi Tata Uang, Bacakan Amanat Menteri saat Hantaru Ke-65
Salah satu contoh adalah Dongguan di Provinsi Guangdong, Tiongkok. Dongguan bukan ibu kota, bukan metropolis global, seperti Beijing atau Shanghai, tetapi kota industri yang tumbuh sangat cepat.
| Perang Iran, Pupuk, dan Piring Nasi Kita |
|
|---|
| Purbaya, “Indonesia Survival Mode”: Diagnosis, Peringatan, dan Reportoar Kehati-hatian |
|
|---|
| Posisi Strategis Selat Malaka dalam Integrasi Jalur Energi dan Perdagangan Global |
|
|---|
| 821 Tahun Banda Aceh: Mau ke Mana Kota Kita? |
|
|---|
| Irwandi, Mualem, dan “Peunutoh”: “JKA Bandum” vs “JKA Kudok” - Akankah Lahir Paradoks Kebijakan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/foto-humam-hamid-terbaru-tahun-2023.jpg)