Kamis, 7 Mei 2026

Opini

Haji: Dari Ritual ke Transformasi yang Tertunda

Serambi Mekkah, warisan sejak era Sultan Iskandar Muda (1607–1636), ketika tanah ini menjadi simpul perjalanan haji Nusantara

Tayang:
Editor: mufti
Serambinews.com/HO/Tidak Ada
M. Shabri Abd. Majid adalah Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Ini bukan hanya soal elite, tetapi semua yang berhaji lintas profesi dan kedudukan. Kita belajar kesetaraan, namun menciptakan jarak. Belajar kejujuran, tetapi menegosiasikan kebenaran. Dilatih disiplin, tetapi tetap mencari celah. Diajarkan melawan yang salah, tetapi menyesuaikan diri dengannya. Perubahan terjadi saat manusia berani mengubah dirinya (QS. Ar-Ra’d: 11). Maka haji tidak diuji di Mekkah, tetapi di kehidupan. Haji mabrur tidak tinggal di sana. Ia pulang atau ia hilang. Jika pulang, ia menjadi kejujuran tanpa pengawasan dan kerja tanpa paksaan. Jika hilang, yang tersisa hanyalah perjalanan, lengkap, tetapi tak mengubah
Saban tahun yang berhaji bertambah, mengapa Aceh belum semakin baik? Sejarah mengingatkan.

Mekkah keluar dari jahiliyah ketika nilai dihidupkan, bukan sekadar diucapkan. Haji mengajak arah yang sama, meninggalkan kegelapan, bukan membawanya pulang. Agar Serambi Mekkah tidak berhenti sebagai nama, tetapi menjadi cahaya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved