Senin, 11 Mei 2026

Opini

Bahasa Inggris Milik Siapa?

Mulai dari Ujian Nasional, TOEFL, hingga IELTS, semuanya dijadikan tolak ukur kemampuan.

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
yunisrina_yusuf 

Lebih dari itu, kita perlu menyadari bahwa bahasa kita sendiri sama prestisiusnya dengan bahasa lain manapun di dunia. Secara ilmu mikrolinguistik, tidak ada bahasa yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua bahasa memiliki nilai dan fungsi yang sama bagi komunitas penuturnya. Bahkan, riset menunjukkan bahwa seseorang yang menguasai lebih dari satu bahasa (bilingual atau multilingual) memiliki keunggulan kognitif dibandingkan mereka yang monolingual. Bilingual di sini tidak harus berarti mampu berbahasa Inggris selain bahasa nasional atau bahasa ibu mereka; menguasai bahasa Aceh, bahasa Jamee, bahasa Devayan, bahasa Arab, bahasa Indonesia, bahasa manapun di dunia ini saja sudah memperkaya kemampuan berpikir kita.

Bagi Aceh, bahasa Inggris jelas membuka peluang besar: akses ke ilmu pengetahuan, jejaring global, hingga ekonomi internasional. Mahasiswa bisa menulis tesis, publikasi, atau presentasi dengan lebih percaya diri. Namun, dominasi bahasa Inggris tidak boleh membuat kita mengabaikan bahasa Indonesia dan bahasa Aceh. Multilingualisme adalah kunci: menguasai bahasa global tanpa mencabut akar budaya sendiri.

Belajar bahasa Inggris untuk keperluan ujian seperti TOEFL atau IELTS memang penting, karena kerap menjadi syarat akademik maupun profesional. Tetapi pembelajaran bahasa tidak boleh berhenti pada nilai dan sertifikat. Esensi belajar bahasa Inggris adalah bagaimana kita dapat mengekspresikan diri, menjaga identitas, serta ikut berperan dalam percakapan global.

Di samping itu, penguasaan bahasa asing juga memberi kita kesempatan untuk menjelaskan dan memberikan nilai pada kekayaan budaya sendiri sehingga dikenal dan diapresiasi oleh dunia. World Englishes mengingatkan kita bahwa bahasa Inggris adalah milik semua, bersifat dinamis, adaptif, dan beragam. Maka, hendaknya kita belajar bahasa Inggris bukan hanya untuk meraih nilai ujian, tetapi juga untuk menghargai keberagaman, meneguhkan jati diri, dan membawa Aceh ke panggung dunia.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved